GUS KIKIN, DARI TEBUIRENG KE PBNU

Ketua PBNU
KH Abdul Hakim Mahfudz
0 Komentar

TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID —Ada orang yang lahir di rumah biasa, lalu menjadi orang besar. Ada juga yang sejak lahir sudah berada di dalam rumah besar. KH Abdul Hakim Mahfudz termasuk yang kedua.

Rumah besarnya bernama Tebuireng. Tetapi menjadi bagian dari keluarga besar Tebuireng ternyata bukan tiket otomatis untuk menjadi pemimpin. Di lingkungan pesantren, nama besar keluarga justru bisa menjadi beban tambahan.

KH Abdul Hakim Mahfudz—yang lebih akrab dipanggil Gus Kikin—terpilih menjadi Ketua Umum PBNU masa khidmah 2026-2031 dalam Muktamar ke-35 NU.

Baca Juga:Kebijakan Sering Kontroversi, Kadishub Kota Tasikmalaya Perlu DievaluasiDPP CBN Mendesak Pemkot Tasikmalaya Evaluasi Pajak MBLB

Ia sebelumnya menjadi peraih suara tertinggi dalam penjaringan calon Ketua Umum PBNU. Tetapi perjalanan menuju kursi itu bukan perjalanan seorang politisi yang sibuk mencari kendaraan.

Gus Kikin justru tumbuh dari pesantren. Dari Tebuireng. Dari lingkungan yang sejak lama mengajarkan bahwa menjadi kiai bukan terutama soal jabatan. Melainkan soal pengabdian.

Ada satu hal yang sering keliru disebut tentang Gus Kikin. Ia bukan cucu Gus Dur. Gus Dur memang masih kerabatnya, tetapi garis keturunannya berbeda.

Gus Dur adalah cucu langsung KH Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama, melalui KH Wahid Hasyim. Sementara Gus Kikin berasal dari jalur keluarga besar KH Hasyim Asy’ari melalui Nyai Hj Khoiriyah Hasyim.

Jadi, mereka masih berada dalam satu pohon besar keluarga Hasyim Asy’ari. Bedanya hanya cabang. Kalau pohon keluarga NU digambar, mungkin membutuhkan kertas yang cukup panjang.

Sebab keluarga besar para kiai memang seperti itu. Satu nama bisa bercabang ke mana-mana. Dan hampir semuanya bermuara pada sejarah pesantren.

Gus Kikin lahir di Jombang, 11 Juli 1970. Ia kemudian tumbuh di lingkungan Pondok Pesantren Tebuireng. Pesantren yang bukan hanya menjadi tempat mengaji, tetapi juga menjadi salah satu pusat sejarah intelektual dan kebangsaan Indonesia.

Baca Juga:Kondusivitas Jadi Kunci Pertumbuhan Ekonomi, Kadin Kota Tasikmalaya Minta Masyarakat Bijak Menyikapi InformasiJenggot Putih Yanto Oce!

Di tempat seperti itu, seorang anak tidak hanya belajar membaca kitab. Ia juga belajar membaca zaman. Gus Kikin ditempa dalam dua dunia. Dunia pesantren dan dunia akademik modern.

0 Komentar