Sejak kecil ia berada di lingkungan Tebuireng. Ia belajar dari para kiai dan tokoh pesantren. Namun ia tidak berhenti di sana. Pendidikan formal membawanya ke Universitas Paramadina Jakarta, mengambil bidang filsafat dan agama.
Kemudian ia melanjutkan studi ke School of Oriental and African Studies (SOAS), University of London, dalam bidang studi Islam. Menarik.
Karena filsafat mengajarkan bagaimana bertanya. Pesantren mengajarkan bagaimana tunduk kepada ilmu. Studi Islam modern mengajarkan bagaimana melihat agama dalam konteks yang lebih luas.
Baca Juga:Kebijakan Sering Kontroversi, Kadishub Kota Tasikmalaya Perlu DievaluasiDPP CBN Mendesak Pemkot Tasikmalaya Evaluasi Pajak MBLB
Tiga dunia itu kemudian bertemu di kepala Gus Kikin. Mungkin itu yang membuat corak pemikirannya tidak terlalu mudah dimasukkan ke dalam kotak.
Ia tetap berangkat dari Aswaja. Tetapi tidak alergi terhadap pemikiran modern. Ia kuat dengan tradisi. Tetapi tidak ingin tradisi menjadi alasan untuk berhenti berpikir.
Ia juga dikenal memiliki kedekatan keilmuan dengan sejumlah tokoh NU, antara lain KH Mustofa Bisri atau Gus Mus dan KH Hasyim Muzadi.
Jadi, kalau mencari rumus sederhana tentang Gus Kikin, mungkin begini: pesantren sebagai akar, filsafat sebagai pisau berpikir, dan NU sebagai ruang pengabdian.
Gus Kikin kini dikenal sebagai Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng. Di sinilah sejarah dan masa depan bertemu. Tebuireng didirikan oleh KH Hasyim Asy’ari.
Dari pesantren inilah lahir banyak ulama. Dan dari tradisi para ulama itu pula NU berkembang menjadi organisasi keagamaan terbesar di Indonesia.
Maka ketika Gus Kikin sekarang memimpin PBNU, sesungguhnya ia tidak benar-benar meninggalkan Tebuireng. Ia hanya memperluas halaman pesantrennya. Dulu halaman itu Jombang. Sekarang halamannya Indonesia.
Baca Juga:Kondusivitas Jadi Kunci Pertumbuhan Ekonomi, Kadin Kota Tasikmalaya Minta Masyarakat Bijak Menyikapi InformasiJenggot Putih Yanto Oce!
Tentu saja mengurus pesantren berbeda dengan mengurus PBNU. Pesantren bisa dibayangkan seperti mengurus satu keluarga besar. PBNU?
Itu seperti mengurus keluarga yang anggotanya tersebar dari Sabang sampai Merauke. Ada yang tinggal di kota. Ada yang tinggal di desa. Ada yang menjadi kiai. Ada yang menjadi pengusaha. Ada yang menjadi akademisi.
Ada yang menjadi pejabat. Ada yang menjadi politisi. Ada yang mungkin tidak punya jabatan apa-apa tetapi setiap malam tetap membaca wirid. Semuanya merasa NU. Dan semuanya punya pendapat. Di situlah pekerjaan Ketua Umum PBNU menjadi tidak sederhana.
