GUS KIKIN, DARI TEBUIRENG KE PBNU

Ketua PBNU
KH Abdul Hakim Mahfudz
0 Komentar

Orang sering mengatakan NU mempunyai jumlah warga yang sangat besar. Pertanyaannya kemudian sederhana: besar secara jumlah, atau juga besar secara daya? PBNU periode Gus Kikin akan diuji di sana.

Satu bidang yang menjadi kekuatan Gus Kikin adalah kaderisasi. Ia dikenal dekat dengan pengembangan sekolah kader dan penguatan struktur organisasi.

Ini pekerjaan yang sering tidak terlalu menarik perhatian. Tidak ada panggung besar. Tidak ada tepuk tangan panjang. Tetapi justru menentukan umur organisasi.Ketua umum hanya lima tahun. Kader bisa bekerja puluhan tahun.

Baca Juga:Kebijakan Sering Kontroversi, Kadishub Kota Tasikmalaya Perlu DievaluasiDPP CBN Mendesak Pemkot Tasikmalaya Evaluasi Pajak MBLB

Maka membangun kader sebenarnya lebih penting daripada membangun popularitas ketua. Di sinilah latar belakang Gus Kikin sebagai pengasuh pesantren menjadi modal.

Pesantren memang sejak dulu bekerja dengan cara itu. Mendidik orang dulu. Memberinya ilmu. Membentuk akhlaknya. Baru kemudian mengirimnya ke masyarakat. Bukan sebaliknya. Memberi jabatan dulu, lalu berharap orangnya belajar.

Gus Kikin sudah mendapatkan legitimasi muktamar. Tetapi legitimasi adalah modal awal. Bukan garis akhir. Lima tahun ke depan akan menjadi ujian. Bisakah PBNU menjadi lebih rapi?

Bisakah kaderisasi berjalan lebih sistematis? Bisakah data dan kelembagaan NU semakin kuat? Bisakah ekonomi umat benar-benar tumbuh?

Bisakah NU menjaga jarak yang sehat dari politik praktis tetapi tetap memiliki pengaruh dalam politik kebangsaan? Dan yang paling sulit: bisakah rumah besar NU membuat semua orang merasa tetap menjadi bagian dari rumah itu?

Sebab NU bukan organisasi kecil. Ia seperti pesantren yang pintunya tidak pernah benar-benar ditutup. Orang datang membawa latar belakang masing-masing.Ada yang pintar. Ada yang biasa saja. Ada yang kaya. Ada yang sederhana. Ada yang sangat politik. Ada yang alergi politik.Ada yang konservatif. Ada yang progresif.Tetapi semuanya membawa satu kata: NU.

Maka mungkin tugas terbesar Gus Kikin bukan membuat NU menjadi lebih besar.NU sudah besar. Tugasnya adalah membuat yang besar itu lebih tertata, lebih berdaya, dan tetap nyaman dihuni.

Baca Juga:Kondusivitas Jadi Kunci Pertumbuhan Ekonomi, Kadin Kota Tasikmalaya Minta Masyarakat Bijak Menyikapi InformasiJenggot Putih Yanto Oce!

Ia datang dari Tebuireng. Dari keluarga besar KH Hasyim Asy’ari. Dari tradisi pesantren. Dari dunia filsafat. Dari studi Islam modern.

0 Komentar