Jenggot Putih Yanto Oce!

Yanto Oce
Yanto Oce
0 Komentar

TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Ada pertemuan yang tidak perlu direncanakan. Tidak perlu agenda. Tidak perlu protokoler. Bahkan tidak perlu kopi yang terlalu banyak.

Kemarin bertemu H Yanto Oce di Hokka Habibi, Jalan Kuningan. Tempat yang boleh dibilang menjadi salah satu titik berkumpul orang-orang keturunan Arab. Tempat orang bertemu, berbincang, makan, lalu pulang membawa cerita masing-masing.

Yanto datang dengan batik bercorak Solo. Yang langsung menarik perhatian saya bukan batiknya. Jenggotnya.

Baca Juga:Kuatkan UMKM Rajapolah Tasikmalaya, Dorong Produk Lokal Naik Kelas Kuasai Pasar DigitalPendapatan Daerah Menyempit, TPP Kota Tasik Melompat!

Kini jenggot Yanto sudah memutih. Membuat wajahnya terlihat jauh lebih tua dibanding beberapa tahun lalu. Tetapi ada satu hal yang tidak berubah: gaya jalannya tetap slow. Santai.

Tidak tampak ada tombol percepatan. Seolah-olah hidup ini tidak perlu dikejar. Toh, katanya, yang terlalu cepat kadang justru tidak sempat menikmati perjalanan.

Nama Yanto Oce sebenarnya bukan nama asing bagi warga Kota Tasikmalaya. Meski ia relatif jarang terlihat atau berada di Tasikmalaya, namanya tetap punya gema sendiri. Setiap ada putaran politik, nama YO—begitu sebagian orang Tasik memanggilnya—hampir selalu muncul.

Kadang dalam pembicaraan politik. Kadang hukum. Kadang ekonomi. Kadang sosial. Dan kadang muncul begitu saja, hanya karena orang sedang membicarakan Tasikmalaya.

Itulah Yanto Oce. Figur yang agak sulit dimasukkan ke dalam satu kotak. Ia asli kelahiran Tasikmalaya. Rumah keluarganya berada di Cibeureum. Bahkan ada sebuah gang di sekitar rumahnya yang dikenal dengan nama Gang H Oce. Nama itu merujuk kepada ayah kandung Yanto.

Di rumah itulah Yanto tumbuh. Di sana pula ia menjadi orang Tasik biasa: punya teman, bermain dengan lingkungan, membangun pergaulan.

Dari pergaulan itulah kemudian relasinya berkembang. Banyak di antaranya sampai Jakarta. Mungkin karena itu pula, meski fisiknya tidak selalu ada di Tasik, namanya tetap ada di Tasik. Relasi memang aneh.

Baca Juga:Mahasiswa KKN UNITAS Rajapolah Tasikmalaya Asah Citra Diri dan Komunikasi Publik Siswa SMKTaktik Pemicu Polemik! Penutupan Jalur Utama Dadaha Tasikmalaya Rawan Mendatangkan PKL Baru

Orang bisa pergi jauh, tetapi jaringan pertemanan tidak ikut pindah. Kemarin kami berbincang ringan. Yanto tampak masih menikmati profesinya sebagai kurator dan advokat.

Nama Yanto juga sempat mengguncang perhatian publik Tasikmalaya ketika ia dipercaya menjadi pengacara mantan Menteri Pendidikan, Nadiem Makarim.

0 Komentar