Jenggot Putih Yanto Oce!

Yanto Oce
Yanto Oce
0 Komentar

Ada satu momen yang kemudian banyak diperbincangkan. Ketika membacakan pembelaan, Yanto menyampaikannya tanpa menggunakan teks selama lebih dari satu jam. Satu jam lebih. Tanpa membaca naskah.

Di ruang sidang, pembelaan itu akhirnya bukan sekadar rangkaian kalimat hukum. Ia berubah menjadi semacam panggung intelektual. Orang melihat bagaimana seseorang bisa berbicara panjang dengan gagasan yang tetap tersambung.

Bagi sebagian warga Tasikmalaya, itu bukan hal yang mengejutkan. Yanto memang dikenal sebagai orang yang senang berpikir dan menyampaikan gagasan.

Baca Juga:Kuatkan UMKM Rajapolah Tasikmalaya, Dorong Produk Lokal Naik Kelas Kuasai Pasar DigitalPendapatan Daerah Menyempit, TPP Kota Tasik Melompat!

Termasuk soal masa depan Tasikmalaya.Ia kerap dimintai pandangan. Bukan selalu karena ia sedang mengejar jabatan, tetapi karena orang ingin tahu bagaimana seseorang yang memiliki pengalaman, jaringan dan perjalanan hidup seperti Yanto melihat Tasik.

Yanto memang pernah mencoba masuk lebih jauh ke politik praktis. Pada Pilkada 2024, ia maju sebagai calon Wali Kota Tasikmalaya. Hasilnya belum berpihak kepadanya.

Tetapi politik rupanya tidak selalu selesai ketika surat suara selesai dihitung. Ada orang yang kalah dalam kontestasi, tetapi tidak kehilangan tempat dalam percakapan publik. Yanto termasuk di antaranya.

Mungkin karena ia tidak terlalu pandai menjadi orang lain. Ia tetap Yanto. Humoris. Spontan. Santai. Dan ketika berbicara dengan masyarakat, jaraknya tidak terasa terlalu jauh.

Itulah barangkali modal sosial yang paling sulit dibeli. Jabatan bisa diperoleh melalui pemilihan. Popularitas bisa dibangun melalui media sosial.

Tetapi kedekatan dengan orang lain membutuhkan waktu yang jauh lebih panjang. Yanto sudah melewati fase itu.Kini jenggotnya memang sudah putih. Usianya pun tidak lagi muda. Tetapi cara bergaulnya masih sama. Slow.

Seperti tidak ada yang perlu diburu. Mungkin karena ia sudah memahami satu hal sederhana: Dalam hidup, yang penting bukan seberapa cepat kita berjalan, tetapi berapa banyak orang yang masih mau berjalan bersama kita. Dan Yanto Oce, entah sadar atau tidak, masih memiliki cukup banyak teman untuk itu. (red)

0 Komentar