Di Tengah Ekonomi Sulit, Keluarga di Kalipucang Pangandaran Ini Harus Berjuang Menghadapi Penyakit

Ekonomi sulit, Penyakit
Suasana kehidupan pasangan suami istri warga Kalipucang Pangandaran yang berjuang melawan penyakit di tengah ekonomi sulit.
0 Komentar

‎PANGANDARAN, RADARTASIK.ID— Salah seorang warga Blok Warung Bungur, RT 01/RW 06, Dusun Empangsari, Desa/Kecamatan Kalipucang, Karsem (60) harus menjalani kehidupan yang berat. Di tengah ekonomi yang sulit, dia harus berjuang mengurus suaminya yang menderita tumor ganas.

‎‎Penyakit yang diderita suaminya itu secara perlahan menguras harta benda yang mereka miliki. Kebun yang selama ini menjadi sumber penghidupan terpaksa dijual. Dua sepeda motor pun ikut dilepas demi membiayai pengobatan Mansur.

‎‎Selain suaimnya yang menderita tumor ganas, anaknya juga tengah berjuang melawan kanker di bagian lidah dan harus menjalani operasi. ‎Selama satu setengah tahun Karse merawat suaminya, ia harus bolak-balik mengantar Mansur menjalani pemeriksaan ke Rumah Sakit Margono, Jawa Tengah.

Baca Juga:Misi Rahasia Ketua Gekrafs!Golkar Kota Tasikmalaya: Iwan Mundur, Nurul Menguat!

‎‎Keterbatasan biaya membuat perjalanan menuju rumah sakit menjadi perjuangan tersendiri. “Kalau pergi ke Jawa harus menyewa mobil untuk mengantar suami Biayanya sekitar Rp600 ribu sekali perjalanan,” katanya belum lama ini.

‎‎Ia mengatakan, untuk memakai mobil sudah tidak ada dana. Bahkan, biaya sewa mobil yang pernah digunakan untuk berobat masih menyisakan utang sekitar Rp3,5 juta. “Masih ada yang belum kebayar,” katanya.

‎Namun ia masih ersyukur masih diberi kesehatan untuk mendampingi suaminya. “Alhamdulillah saya masih dikasih kesehatan buat antar-jemput,” ujarnya.

‎‎Di tengah kondisi tersebut, Karsem berusaha mencari penghasilan seadanya. Ia membuat keripik gadung untuk dijual. Bahan bakunya tidak mudah didapat.

‎‎Karsem harus masuk ke kawasan hutan yang cukup jauh untuk mencari gadung. Sambil mencari gadung, ia juga mengumpulkan lidi untuk dibuat sapu.

‎‎Sesampainya di rumah, Mansur yang kondisinya masih terbatas membantu mengolah gadung tersebut. “Kalau saya bikin keripik gadung. Gadungnya nyari ke alas, jauh. Sambil nyari sapu lidi. Nanti di rumah Pak Mansur yang ngerautin,” katanya.

‎‎Keripik gadung itu dijual sekitar Rp60 ribu per kilogram. Tidak selalu banyak, tetapi cukup untuk membantu menyambung kebutuhan keluarga. “Kalau ada yang pesan di jual,” ujarnya.

0 Komentar