TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Kepedulian terhadap penyintas kanker payudara terus digelorakan Yayasan Pita Pink Tasikmalaya. Salah satunya melalui konser musik amal yang digelar di kawasan Car Free Day (CFD) Kota Tasikmalaya, Minggu (20/9/2026).
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya Pita Pink membantu meringankan beban para penyintas kanker sekaligus mempersiapkan rangkaian kegiatan memperingati Hari Kanker yang akan digelar pada 11 Oktober 2026.
Ketua Yayasan Pita Pink Tasikmalaya, Tuti Darmayanti, mengatakan konser amal tersebut merupakan kegiatan perdana yang digelar pihaknya. Acara itu turut didukung Ketua CFD Kota Tasikmalaya Jupri serta Pembina CFD, Kompul. “Konser amal ini untuk membantu para penyintas kanker. Selain itu, untuk menghadapi kegiatan Hari Kanker pada 11 Oktober 2026,” ujar Tuti.
Baca Juga:Misi Rahasia Ketua Gekrafs!Golkar Kota Tasikmalaya: Iwan Mundur, Nurul Menguat!
Dia menjelaskan, saat ini Yayasan Pita Pink Tasikmalaya telah memiliki sekitar 320 anggota. Mereka merupakan penyintas kanker yang berasal dari Kota Tasikmalaya, Kabupaten Tasikmalaya, Ciamis, Banjar hingga Pangandaran.
Menurut Tuti, jumlah tersebut mengalami perkembangan cukup pesat sejak yayasan dibentuk pada 2024. Saat itu, Pita Pink hanya beranggotakan lima orang. “Konser amal ini untuk pertama kalinya digelar. Kebetulan, anaknya Pak Ketua CFD juga penyintas kanker dan sudah selesai kemoterapi. Kita akan road show ke berbagai tempat untuk menggalang dana,” terangnya.
Saat ini, sekretariat Yayasan Pita Pink Tasikmalaya berada di Jalan Sutra, Komplek LIK, depan Kampus STIA Kawalu.
Tuti juga mengingatkan masyarakat agar tidak mengabaikan kemunculan benjolan pada tubuh. Sebab, kanker payudara kini tidak hanya ditemukan pada kelompok usia lanjut, tetapi juga dapat menyerang usia muda.
“Sekarang ini usia 17 sampai 30 tahun juga sudah terkena kanker. Jadi, bagi yang memiliki benjolan di tubuh, segera diperiksa ke fasilitas kesehatan terdekat. Jangan menunggu sampai kondisinya parah,” tuturnya.
Dia mengaku pernah berada dalam kondisi sebagai penyintas kanker. Berbekal pengalaman tersebut, Tuti mendorong masyarakat untuk melakukan pemeriksaan sedini mungkin. “Ada yang tidak tertolong karena ketika berobat kondisinya sudah pecah. Padahal, ketika ada benjolan di tubuh harus segera diperiksa ke dokter. Saya juga dulu penyintas kanker, tapi kini sudah survive,” ujarnya.
