TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Di tengah penurunan daya beli masyarakat dan lesunya kondisi perekonomian nasional, bisnis pusat perbelanjaan di Tasikmalaya dinilai masih tetap bergeliat.
Ketua Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) Wilayah Tasikmalaya–Cirebon, Lucy Sosilawaty, mencatat tingkat keterisian tenant dan aktivitas bisnis ritel di daerah masih berada dalam tren positif.
Menurut dia, kondisi tersebut menunjukkan pasar ritel Tasikmalaya masih memiliki daya tarik bagi pelaku usaha. Minat pemilik brand untuk membuka gerai baru terus berdatangan, baik dari pelaku usaha nasional maupun internasional.
Baca Juga:Transisi Hijau Buka Jutaan Peluang Kerja Baru, Indonesia Siapkan Tenaga Kerja KompetenTak Sekadar Terdaftar, BPJS Ketenagakerjaan dan BPJS Kesehatan Perketat Pengawasan Pemberi Kerja
“Secara kondisi ekonomi memang menjadi tantangan tersendiri bagi kita dan para pelaku usaha ritel. Namun, kalau kita lihat dari sisi pergerakan bisnis di sini, pertumbuhannya tetap positif. Sekarang kita justru terus didatangi oleh pemilik brand yang ingin masuk,” ujar Lucy.
Pertumbuhan bisnis tersebut turut terlihat dari perubahan komposisi tenant di pusat perbelanjaan. Sektor food and beverage (F&B) kini menjadi salah satu sektor yang mendominasi tenant di mal. Kondisi itu tidak terlepas dari banyaknya brand yang viral di media sosial, khususnya di kalangan generasi muda dalam hal ini adalah Gen Z.
Fenomena tersebut, kata Lucy, membuat pengelola pusat perbelanjaan perlu semakin jeli membaca tren yang berkembang di masyarakat. Popularitas sebuah brand di media sosial dapat dengan cepat mendorong rasa penasaran konsumen untuk datang dan mencoba secara langsung, sehingga turut menciptakan pergerakan pengunjung di pusat perbelanjaan.
Di saat yang sama, perkembangan teknologi digital juga mengubah cara masyarakat memenuhi kebutuhan. Kehadiran platform belanja daring membuat konsumen memiliki pilihan yang semakin praktis, efisien, dan ekonomis untuk berbelanja tanpa harus datang langsung ke toko.
Perubahan pola belanja itu kemudian ikut mendorong pergeseran fungsi pusat perbelanjaan. Mal tidak lagi hanya mengandalkan aktivitas jual beli barang, tetapi berkembang menjadi ruang yang menawarkan beragam pengalaman bagi pengunjung.
Aktivitas nongkrong sambil berburu kuliner, hiburan, kegiatan komunitas hingga program edukatif kini menjadi bagian dari aktivitas pusat perbelanjaan. Ragam kegiatan tersebut membuat kunjungan ke mal tidak selalu didorong oleh kebutuhan untuk berbelanja, tetapi juga kebutuhan untuk berkumpul dan menghabiskan waktu.
