Bagi pengelola, perubahan itu menjadi bagian dari upaya menjaga relevansi pusat perbelanjaan di tengah persaingan dengan platform bisnis digital. Ketika transaksi dapat dilakukan dari mana saja, kehadiran fisik mal memiliki nilai tambah melalui pengalaman, interaksi dan aktivitas yang tidak sepenuhnya dapat digantikan oleh layanan daring.
Perkembangan tersebut pada akhirnya turut membuka ruang bagi masuknya pelaku usaha baru ke Tasikmalaya. Bertambahnya tenant dan beragamnya aktivitas di pusat perbelanjaan tidak hanya memperkuat sektor perdagangan, tetapi juga menciptakan perputaran ekonomi yang melibatkan pelaku usaha dan masyarakat di daerah.
Karena itu, Lucy menilai keberlanjutan pertumbuhan bisnis pusat perbelanjaan juga membutuhkan dukungan kebijakan dari pemerintah daerah. Iklim investasi yang kondusif dinilai penting agar minat pelaku usaha yang sudah tumbuh dapat terus berkembang dan memberikan dampak yang lebih luas bagi perekonomian daerah.
Baca Juga:Transisi Hijau Buka Jutaan Peluang Kerja Baru, Indonesia Siapkan Tenaga Kerja KompetenTak Sekadar Terdaftar, BPJS Ketenagakerjaan dan BPJS Kesehatan Perketat Pengawasan Pemberi Kerja
“Banyak investor dan merek baru yang datang ke Tasikmalaya daan ini tentu berkontribusi langsung pada Pendapatan Asli Daerah (PAD). Kami berharap ada dukungan regulasi dan iklim yang kondusif dari pemerintah daerah agar investasi di sektor ritel ini bisa terus bertahan dan berkembang,” ungkapnya. (Fitriah Widayanti)
