Gus Kikin dikenal membawa garis politik kebangsaan. Bukan politik praktis. Ada perbedaan penting di antara keduanya. NU tidak harus menjadi kendaraan partai politik. Tetapi NU tidak boleh buta terhadap politik.
Sebab kebijakan pemerintah memengaruhi kehidupan umat. Pendidikan adalah politik kebangsaan. Kesehatan adalah politik kebangsaan. Kemiskinan adalah politik kebangsaan. Keadilan adalah politik kebangsaan.
Begitu pula menjaga Pancasila dan NKRI. Karena itu, Gus Kikin menempatkan NU sebagai kekuatan masyarakat sipil yang dapat ikut menentukan arah bangsa tanpa harus berubah menjadi partai politik.
Baca Juga:Kebijakan Sering Kontroversi, Kadishub Kota Tasikmalaya Perlu DievaluasiDPP CBN Mendesak Pemkot Tasikmalaya Evaluasi Pajak MBLB
Dalam garis pemikiran itu, khilafah dan negara agama tidak menjadi pilihan. Indonesia sudah memiliki Pancasila. NU sejak awal ikut menjaga negara ini. Maka tugas NU bukan mengganti rumah Indonesia. Tugasnya memperbaiki rumah itu kalau ada atap yang bocor.
Gus Kikin juga dikenal memiliki perhatian terhadap moderasi beragama dan pencegahan ekstremisme. Pendekatannya bukan sekadar melarang. Lebih banyak melalui pendidikan dan kaderisasi. Ini penting.
Sebab ideologi tidak selalu bisa dikalahkan dengan ceramah satu jam. Kadang harus dilawan dengan pendidikan bertahun-tahun. Dengan guru yang baik. Dengan pesantren yang terbuka. Dengan kader yang memahami agama sekaligus memahami Indonesia.
Di sinilah konsep Islam yang berakar pada tradisi Nusantara menjadi penting. Islam tidak harus dipertentangkan dengan kebudayaan. Agama tidak harus dipisahkan dari kemanusiaan.
Dan perbedaan tidak harus berakhir dengan permusuhan. Mungkin itu sebabnya pendekatan Gus Kikin cenderung dialogis. Lembut, tetapi tidak berarti lunak. Terbuka, tetapi tidak berarti kehilangan prinsip.
Ada satu persoalan NU yang jauh lebih konkret daripada perebutan pengaruh politik. Ekonomi. Umat membutuhkan pekerjaan. Pesantren membutuhkan kemandirian. Koperasi membutuhkan penguatan. BMT membutuhkan ekosistem.
Santri membutuhkan peluang usaha. Di sinilah gagasan ekonomi umat menjadi penting. Gus Kikin melihat NU tidak cukup hanya memiliki banyak jamaah. Jumlah warga NU yang besar harus bisa menjadi kekuatan ekonomi.
Baca Juga:Kondusivitas Jadi Kunci Pertumbuhan Ekonomi, Kadin Kota Tasikmalaya Minta Masyarakat Bijak Menyikapi InformasiJenggot Putih Yanto Oce!
Kalau jutaan warga NU berkumpul tetapi ekonominya tetap lemah, ada sesuatu yang belum selesai. Karena itu koperasi, BMT dan pesantrenpreneur menjadi bagian dari perhatian.
