Karena dalam ekonomi modern, akses kadang lebih mahal daripada uang. Uang bisa habis. Akses bisa membuka pintu berikutnya.
Apalagi Kota Tasikmalaya sedang mempersiapkan ulang tahun ke-25. Seperempat abad. Sementara orang yang ikut membuka pintu menuju perayaan berskala nasional itu baru berusia 36 tahun.
Artinya, ketika Kota Tasikmalaya memasuki usia seperempat abad, generasi yang lahir dari Indonesia era reformasi mulai masuk ke ruang-ruang pengambilan keputusan.
Baca Juga:Paradoks Karaoke di Kota Tasik!Dua Telepon Tak Pernah Diam!
Tiar adalah salah satu wajahnya. Generasi yang tidak terlalu takut kepada teknologi. Tidak terlalu canggung dengan Jakarta.Tidak terlalu asing dengan dunia global.
Dan tidak harus selalu menunggu menjadi tua untuk dianggap mampu. Mungkin ini yang paling menarik dari cerita Tiar. Bukan bahwa ia anak siapa. Bukan bahwa ia menjabat apa.
Tetapi bahwa di usia 36 tahun, ia sudah mulai terlihat memainkan fungsi yang sering kali justru sulit dilakukan oleh orang yang jauh lebih senior: menghubungkan.
Menghubungkan Tasikmalaya dengan Jakarta. Menghubungkan pemerintah dengan dunia usaha. Menghubungkan UMKM dengan teknologi. Menghubungkan ekonomi kreatif dengan pasar. Dan sekarang, menghubungkan ulang tahun sebuah kota dengan panggung nasional.
Tetapi Oktober nanti akan menjadi ujian.Sebab pertemuan selalu lebih mudah daripada pelaksanaan. Membuka pintu mudah. Masuk ke dalamnya yang sulit.
Dan yang paling sulit adalah membawa sesuatu pulang. Kalau Oktober nanti Kota Tasikmalaya hanya mendapatkan panggung, maka Tiar hanya berhasil menjadi pembuka acara.
Tetapi kalau dari kolaborasi itu lahir akses pasar, jejaring usaha, investasi, penguatan UMKM, promosi produk kreatif, atau bahkan program nasional yang benar-benar menetap di Tasikmalaya, maka perannya jauh lebih penting.
Baca Juga:Dari Medan Perang ke Mimbar Pesantren!Anak Ketiga Ditemukan, Pencarian Anak Hilang di Tasikmalaya Tuntas, Misteri Kepergian Mulai Terkuak
Ia menjadi katalisator. Katalisator tidak harus menjadi bahan utama. Ia hanya mempercepat reaksi. Tetapi tanpa katalisator, reaksi itu kadang tidak pernah terjadi.
Mungkin itulah alasan mengapa sosok Tiar mulai menarik perhatian menjelang 17 Oktober. Ia datang dari keluarga besar. Tetapi mencoba membangun namanya sendiri. Ia bekerja di Jakarta. Tetapi mulai membuka jalan untuk kota asal keluarganya.
Ia berada di lingkar pemerintahan pusat. Tetapi yang dibicarakan di ruang pertemuan itu adalah bagaimana Tasikmalaya bisa naik kelas.
