Anak muda Tasikmalaya juga membutuhkan jaringan. Masalahnya selama ini adalah bagaimana semua kebutuhan itu bertemu.
Dan di situlah ekonomi kreatif seharusnya tidak berhenti menjadi festival. Ekonomi kreatif harus menjadi ekosistem.
Maka menarik ketika pertemuan Tiar dengan Pemkot Tasikmalaya berlangsung menjelang ulang tahun kota.
Baca Juga:Paradoks Karaoke di Kota Tasik!Dua Telepon Tak Pernah Diam!
Sebab ulang tahun kota biasanya hanya dihitung mundur menuju tanggal. Tiar tampaknya ingin menghitung lebih jauh.Bukan: “Acara apa yang akan dibuat?”Tetapi: “Setelah acara selesai, apa yang tertinggal?”
Itulah pertanyaan yang lebih penting. Sebab membuat acara nasional tidak terlalu sulit. Undang orang Jakarta.
Pasang panggung. Buat konser. Selesai.
Yang sulit adalah membuat orang Jakarta datang ke Kota Tasikmalaya karena Tasikmalaya memang memiliki sesuatu yang layak didatangi.
Yang sulit adalah membuat produk kreatif Kota Tasikmalaya masuk pasar nasional. Yang sulit adalah membuat UMKM Kota Tasikmalaya tidak hanya menjadi penonton dalam acara yang mengatasnamakan ekonomi kreatif.
Yang sulit adalah membuat Oktober bukan sekadar ramai selama tiga hari atau sebulan, lalu kembali sepi selama sebelas bulan berikutnya.
Di sinilah Tiar bisa memainkan peran.Sebagai jembatan. Bukan sebagai pemilik acara. Bukan pula sebagai orang yang harus mengambil alih panggung pemerintah daerah.
Justru sebaliknya. Pemerintah kota tetap menjadi tuan rumah. Pelaku ekonomi kreatif menjadi pemain. Kementerian menjadi mitra. Dan jaringan nasional menjadi pengungkit.
Baca Juga:Dari Medan Perang ke Mimbar Pesantren!Anak Ketiga Ditemukan, Pencarian Anak Hilang di Tasikmalaya Tuntas, Misteri Kepergian Mulai Terkuak
Tiar cukup menjadi orang yang memastikan mereka duduk di meja yang sama. Sebab kadang persoalan pembangunan bukan karena tidak ada uang.
Kota Tasikmalaya sebenarnya memiliki banyak modal. Ada batik. Ada bordir. Ada kuliner. Ada pesantren. Ada anak muda kreatif. Ada pelaku UMKM. Ada seniman.Ada komunitas digital. Ada industri rumahan. Ada sejarah.
Yang sering kurang adalah cara mengemas semuanya menjadi cerita yang bisa dijual keluar. Di sinilah teknologi digital bertemu ekonomi kreatif.
Dan di sinilah seorang Tiar yang bekerja di level nasional bisa menjadi relevan bagi kota kelahirannya. Ia tidak harus membawa uang dari Jakarta. Ia bisa membawa akses.
