TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Pengalaman panjang di lingkungan pesantren menjadi bekal Ajeng Kholifah untuk melangkah ke ruang yang lebih luas. Santriwati Pondok Pesantren Miftahul Huda Pusat Manonjaya, Tasikmalaya, itu dinyatakan lulus sebagai peserta International Conference Santri Mendunia (ICSM) Batch 7 yang akan berlangsung di Malaysia, Singapura, dan Thailand pada 25–30 November 2026.
Kesempatan mengikuti forum internasional itu, bagi Ajeng tidak sekadar sebagai perjalanan ke luar negeri. Ia ingin memanfaatkannya untuk bertukar perspektif, membangun jejaring, sekaligus memperkenalkan kemampuan santri kepada masyarakat di luar lingkungan pesantren.
“Saya ingin menunjukkan bahwa santri mampu berkomunikasi, berkolaborasi, berprestasi, dan berkontribusi. Kita bisa mengikuti perkembangan global tanpa harus kehilangan akar pesantren dan budaya Indonesia,” ujar Ajeng.
Baca Juga:UPTD PPA Kota Tasikmalaya Sebut Korban Bullying Alami Depresi, Minta Pindah SekolahInsentif SPPG Jadi Rp 2.000 per Porsi, Mitra SPPG di Priangan Timur Minta BGN Kaji Ulang
Gagasan itu tumbuh dari perjalanan pendidikan Ajeng yang telah berlangsung kurang lebih 13 tahun di lingkungan pesantren. Selama menjalani pendidikan, ia tidak hanya mempelajari ilmu agama, tetapi juga mengikuti pembelajaran tahfiz Al-Qur’an, bahasa, tradisi keilmuan salafi, hingga kajian kitab kuning.
Pengalaman keilmuan itu kemudian membawanya aktif dalam berbagai kegiatan yang menuntut kemampuan berpikir dan berkomunikasi. Ajeng mengikuti kajian fikih, Bahtsul Masail, pidato, dakwah, debat, cerdas cermat, serta berbagai kegiatan keagamaan dan intelektual lainnya.
Ia juga mengikuti Daurah Alqur’an Sanad Syekh Jamil Yamani dan Simaan Alfiyyah Ibnu Malik 1.002 bait. Beragam kegiatan itu membuat ruang belajarnya tidak hanya berlangsung di dalam kelas atau forum kajian, tetapi juga melalui proses berlatih, berdiskusi, dan berkompetisi.
Kemampuan Ajeng berkembang ke bidang seni dan kreativitas. Ia menekuni kaligrafi, melukis, desain grafis, fotografi, videografi, hingga kegiatan pentas seni. Sejumlah kompetisi juga pernah diikutinya, mulai dari kaligrafi, pidato, MHQ, dakwah, debat, cerdas cermat, desain grafis, melukis, hingga kegiatan seni lainnya.
Aktivitasnya tidak berhenti pada bidang keagamaan dan seni. Ajeng juga mengikuti kegiatan olahraga seperti badminton dan voli. Pengalaman di berbagai bidang itu memberinya ruang untuk mengembangkan kemampuan bekerja sama, berkomunikasi, berkompetisi, sekaligus beradaptasi dengan lingkungan yang berbeda.
