Ajeng Kholifah Siap Tunjukkan Kiprah Santri di Forum Internasional

santri Manonjaya go international
Ajeng Kholifah, Santriwati Pondok Pesantren Miftahul Huda Pusat Manonjaya, Tasikmalaya, akan mengikuti International Conference Santri Mendunia (ICSM) Batch 7 yang akan berlangsung di Malaysia, Singapura, dan Thailand pada 25–30 November 2026. (IST)
0 Komentar

Bagi Ajeng, pengalaman yang diperoleh selama berada di pesantren justru menjadi modal untuk menghadapi perkembangan zaman. Menjadi santri tidak harus membuat generasi muda menutup diri dari perubahan dan perkembangan dunia.

“Bagi saya, menjadi santri bukan berarti membatasi diri dari dunia. Justru ilmu dan nilai yang diperoleh di pesantren menjadi bekal untuk menghadapi dunia dengan tetap membawa identitas dan nilai yang kita miliki,” katanya.

Pandangan itu pula yang ingin dibawa Ajeng ketika mengikuti ICSM Batch 7. Pertemuan dengan peserta dari lingkungan dan latar belakang berbeda diharapkan dapat menjadi kesempatan untuk memperluas wawasan sekaligus mengenalkan kehidupan santri dari sudut pandang generasi muda.

Baca Juga:UPTD PPA Kota Tasikmalaya Sebut Korban Bullying Alami Depresi, Minta Pindah SekolahInsentif SPPG Jadi Rp 2.000 per Porsi, Mitra SPPG di Priangan Timur Minta BGN Kaji Ulang

Di tengah arus globalisasi, Ajeng memandang wawasan global dan identitas budaya tidak harus ditempatkan sebagai dua hal yang berlawanan. Kemampuan mengikuti perkembangan zaman dapat berjalan bersama dengan kecintaan terhadap agama, budaya, dan nilai yang telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

Pengalaman belasan tahun di pesantren menjadi bagian penting dari cara Ajeng melihat hal itu. Dari lingkungan pendidikan keagamaan, ia mengembangkan kemampuan melalui kajian, kompetisi, seni, olahraga, hingga aktivitas yang melatih keberanian tampil dan berkomunikasi.

Kini, kesempatan menuju Malaysia, Singapura, dan Thailand membuka ruang baru bagi perjalanan tersebut. Ajeng tidak hanya membawa pengalaman pribadi, tetapi juga ingin memperkenalkan bahwa lingkungan pesantren dapat menjadi tempat tumbuhnya generasi muda yang memiliki kemampuan beragam dan mampu beradaptasi dengan dunia yang terus berubah.

“Kita boleh melangkah sejauh mungkin ke dunia global, tetapi jangan sampai lupa dari mana kita berasal,” tuturnya.

Dari Manonjaya, Ajeng bersiap membawa pengalaman yang dibentuk selama bertahun-tahun di pesantren ke forum internasional. Ia ingin menjadikan kesempatan itu sebagai ruang belajar sekaligus membawa cerita tentang santri, budaya, dan nilai-nilai Indonesia ke lingkungan yang lebih luas. (Fitriah Widayanti)

0 Komentar