Dari Medan Perang ke Mimbar Pesantren!

Pesantren di tasikmalaya
KH Didi Abdul Majid
0 Komentar

TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Ada ulama yang dikenang karena ceramahnya. Ada pula yang dikenang karena kitabnya. Tetapi ada ulama yang tetap hidup justru karena manusia-manusia yang pernah disentuhnya.

Almarhum KH Didi Abdul Majid—yang lebih akrab dipanggil Apih Paseh—barangkali termasuk golongan terakhir itu.

Nama almarhum dulu mungkin tidak sering muncul. Tidak pula menjadi bahan perdebatan politik. Namun di gang-gang sempit Paseh, di ruang-ruang pengajian, dan di hati para santri, nama itu masih disebut dengan penuh takzim.

Baca Juga:Anak Ketiga Ditemukan, Pencarian Anak Hilang di Tasikmalaya Tuntas, Misteri Kepergian Mulai TerkuakMencari Karcis, Mencari Kadis!

Bukan karena beliau pernah mencari popularitas. Tetapi karena beliau berhasil menanamkan sesuatu yang lebih sulit diwariskan daripada bangunan pesantren: adab.

Sulalatul Huda berdiri di Jalan Paseh, Kelurahan Tugujaya, Kecamatan Cihideung, Kota Tasikmalaya. Bagi orang yang hanya melihat dari luar, ia hanyalah kompleks pesantren yang sederhana.

Namun bagi ribuan santri dan masyarakat sekitar, tempat itu adalah rumah ilmu. Rumah akhlak. Rumah tempat banyak orang belajar menjadi manusia.

Di balik berdirinya pesantren itu ada sosok almarhum KH Didi Abdul Majid. Beliau bukan hanya pendiri. Beliau adalah ruhnya.

Yang menarik, perjalanan hidup beliau tidak dimulai dari ruang kelas. Tetapi dari medan perjuangan.

Pada masa revolusi mempertahankan kemerdekaan, beliau ikut terlibat dalam perjuangan melawan penjajah.

Generasi sekarang mungkin sulit membayangkan. Dulu, seorang santri bisa memegang kitab pada pagi hari.

Baca Juga:Korsleting Listrik, Satu Rumah Terbakar di Kabupaten Tasikmalaya, Damkar dan Tagana Berjibaku Padamkan ApiTasikmalaya Diskon Besar!

Lalu memanggul bambu runcing atau senjata pada sore harinya. Mereka belajar bahwa mempertahankan tanah air juga bagian dari menjaga agama.

Sesudah republik berdiri, beliau memilih jalan yang jauh lebih panjang daripada perang. Mendidik manusia.

Karena penjajah memang bisa diusir dalam hitungan tahun. Tetapi kebodohan membutuhkan puluhan tahun untuk dikalahkan.

Di Sulalatul Huda, beliau membangun sistem pendidikan yang menarik. Pesantren salaf tetap dipertahankan. Kitab kuning tetap menjadi ruh. Tauhid, fikih, tasawuf tetap menjadi fondasi.

Namun beliau tidak menutup pintu terhadap pendidikan formal. Madrasah berjalan berdampingan dengan sistem kepesantrenan.

Tradisi dan modernitas tidak dipertentangkan. Keduanya dipertemukan. Sebab bagi beliau, ilmu tidak pernah saling bermusuhan. Yang bermusuhan hanyalah ego manusia.

0 Komentar