Dari Medan Perang ke Mimbar Pesantren!

Pesantren di tasikmalaya
KH Didi Abdul Majid
0 Komentar

Dalam perjalanan mencari ilmu, almarhum KH Didi dikenal sebagai pengembara sanad. Beliau berguru kepada banyak ulama besar. Di antaranya kepada para ulama Pesantren Cibeunying Karangnunggal.

Kepada Uwa Manonjaya. Beliau juga memperdalam ilmu kepada Abah Guru Sekumpul Martapura. Selain itu, beliau kerap melakukan pasaran dan tabarrukan kepada para ulama di Jawa Tengah maupun Jawa Timur.

Perjalanan itu menunjukkan satu hal. Ilmu tidak datang hanya dari membaca. Tetapi juga dari menghormati guru.

Baca Juga:Anak Ketiga Ditemukan, Pencarian Anak Hilang di Tasikmalaya Tuntas, Misteri Kepergian Mulai TerkuakMencari Karcis, Mencari Kadis!

Hari ini mungkin banyak orang merasa cukup belajar melalui video berdurasi satu menit. Padahal ulama-ulama dahulu rela berjalan berhari-hari hanya untuk mendengar satu hadis atau satu penjelasan kitab.

Mereka mengenal KH Didi bukan hanya sebagai ahli tauhid. Beliau juga mendalami fikih. Tasawuf. Dan pendidikan karakter.

Karena itu, masyarakat tidak sekadar melihat beliau sebagai kiai. Tetapi sebagai murabbi. Pendidik jiwa.

Seseorang yang tidak hanya mengajarkan apa yang benar, tetapi juga bagaimana menjadi benar.

Konon, siapa pun yang datang kepada beliau sering pulang membawa ketenangan. Bukan karena mendapat jawaban. Melainkan karena mendapat arah.

Jejak keilmuan keluarga Abdul Majid memang panjang. Sebelumnya dikenal sosok KH Abdul Majid bin Raden Ahmad atau Agan Aon Mangunreja, ulama besar yang hidup pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20. Beliau aktif berdakwah melalui media cetak, menulis kitab Deba atau Marqotul Mahabbah, serta dikenal sebagai ahli Madah Nabi.

Kemudian muncul generasi KH Didi Abdul Majid Cijulang, ulama yang pernah berguru kepada Mbah Kholil Bangkalan dan dikenal sebagai ahli syariah, tauhid, serta ilmu alat. Dari tangan beliau lahir murid-murid besar, salah satunya KH Choer Affandi, pendiri Pondok Pesantren Miftahul Huda Manonjaya.

Baca Juga:Korsleting Listrik, Satu Rumah Terbakar di Kabupaten Tasikmalaya, Damkar dan Tagana Berjibaku Padamkan ApiTasikmalaya Diskon Besar!

Lalu hadir generasi berikutnya, KH Didi Abdul Majid Apih Paseh, yang melanjutkan estafet perjuangan melalui Sulalatul Huda di Tasikmalaya. Tiga generasi. Satu nama. Satu mata rantai ilmu.

Almarhum KH Didi Abdul Majid wafat pada tahun 2007. Tetapi pesantren tidak ikut berhenti. Sebab pesantren sejati memang tidak bergantung kepada satu orang.

0 Komentar