Dari Medan Perang ke Mimbar Pesantren!

Pesantren di tasikmalaya
KH Didi Abdul Majid
0 Komentar

Ia hidup melalui murid-muridnya. Melalui sanad ilmunya. Melalui nilai-nilai yang terus diajarkan.

Kini estafet perjuangan itu diteruskan oleh para penerusnya, salah satunya KH Aminudin Bustomi bersama keluarga besar Pesantren Sulalatul Huda.

Setiap tahun mereka menyelenggarakan Haul KH Didi Abdul Majid, bukan sekadar mengenang sosok, tetapi merawat warisan keilmuan dan akhlak yang beliau tinggalkan.

Baca Juga:Anak Ketiga Ditemukan, Pencarian Anak Hilang di Tasikmalaya Tuntas, Misteri Kepergian Mulai TerkuakMencari Karcis, Mencari Kadis!

Haul bukan hanya mengenang orang yang telah tiada. Haul adalah cara mengingat bahwa ilmu tidak pernah mati.

Tasikmalaya sering disebut Kota Santri. Namun sebuah kota tidak menjadi kota santri hanya karena banyak pesantren.

Ia menjadi kota santri karena ada orang-orang yang rela menghabiskan hidupnya untuk mendidik, bukan dipuji.

KH Didi Abdul Majid adalah salah satunya. Beliau tidak meninggalkan gedung bertingkat. Tidak meninggalkan perusahaan besar. Tidak pula meninggalkan rekening yang menjadi buah bibir.

Yang beliau tinggalkan adalah sesuatu yang jauh lebih mahal. Santri yang terus mengajar. Guru yang terus membimbing. Dan doa-doa yang tak pernah putus dari murid-muridnya.

Di zaman ketika banyak orang berlomba menjadi terkenal, almarhum KH Didi Abdul Majid mengajarkan pelajaran yang justru semakin langka.

Bahwa kebesaran seorang ulama tidak diukur dari seberapa sering namanya disebut, melainkan seberapa lama ilmunya tetap hidup setelah ia berpulang.(red)

0 Komentar