TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Spanduk itu pernah begitu percaya diri. Huruf-hurufnya besar. Kalimatnya pendek. Mudah diingat. “Tanpa Karcis, Parkir Gratis.”
Kalimat yang sangat populis. Sangat merakyat. Sangat mudah mendapat tepuk tangan. Dinas Perhubungan Kota Tasikmalaya memasangnya di beberapa ruas jalan.
Seolah ingin mengumumkan sebuah revolusi kecil di dunia perparkiran. Publik membaca. Publik mengangguk. Lalu…publik tersenyum. Bukan karena yakin. Melainkan karena sudah hafal.
Baca Juga:Korsleting Listrik, Satu Rumah Terbakar di Kabupaten Tasikmalaya, Damkar dan Tagana Berjibaku Padamkan ApiTasikmalaya Diskon Besar!
Spanduk itu bertahan sekitar dua minggu. Setelah itu menghilang. Entah dicabut. Entah dilepas. Entah ada yang membawanya pulang. Atau mungkin ia sendiri malu karena terlalu lama menggantungkan janji yang tak kunjung menemukan kenyataan.
Yang pasti, spanduk itu kini sudah tidak ada. Aneh. Hilangnya spanduk itu tidak menimbulkan protes. Tidak ada yang bertanya. Tidak ada yang mencari. Tidak ada yang kehilangan.
Karena yang lebih dulu hilang adalah kepercayaan. Publik seolah sudah bisa menebak akhir ceritanya sejak hari pertama spanduk dipasang.
Mereka tahu slogan sering kali hanya menjadi kosmetik kebijakan. Lipstik birokrasi. Cantik difoto. Sulit ditemukan di lapangan.
Cobalah parkir di Jalan HZ Mustofa. Pusat perdagangan. Pusat keramaian. Pusat ekonomi Kota Tasikmalaya. Saya mencobanya. Bukan sekali. Empat kali. Empat lokasi berbeda. Empat kali pula saya membayar parkir.
Dan hasilnya sama. Tidak satu pun juru parkir memberikan karcis. Tidak ada. Jangankan parkir gratis. Karcisnya saja seperti barang antik. Langka.
Kalau slogan pemerintah berbunyi “Tanpa Karcis, Parkir Gratis”, kenyataan di lapangan justru berubah menjadi “Tanpa Karcis, Tetap Bayar.”
Baca Juga:Dituding Sebabkan Kekeringan Irigasi Pertanian di Tasikmalaya, BBWS Citanduy Beri Penjelasan BeginiSaat Bupati dan Wakil Tidak Berebut Cahaya
Lalu siapa sebenarnya yang sedang melanggar? Masyarakat? Juru parkir? Atau sistemnya memang sejak awal tidak pernah benar-benar dibangun?
Saya punya usul sederhana. Bukan rapat. Bukan seminar. Bukan Focus Group Discussion. Bukan pula studi banding. Cukup satu sore.
Saya berharap Kepala Dinas Perhubungan Kota Tasikmalaya, H. Iwan Kurniawan, melepas seragam dinasnya. Jangan memakai mobil dinas. Gunakan mobil pribadi. Atau lebih baik lagi sepeda motor.
Datang tanpa pengawalan. Parkirlah di HZ Mustofa. Bayarlah seperti warga biasa.
