Tjepi Rilis Lagu Singgasana, Bermuatan Kritik Sosial tentang Kekuasaan dan Rakyat

LSMI HMI Tasikmalaya, Lagu Singgasana
Musisi sekaligus Direktur Lembaga Seni Mahasiswa Islam (LSMI) HMI Cabang Tasikmalaya, Tjepi merilis lagu berjudul Singgasana.
0 Komentar

TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID– Musisi sekaligus Direktur Lembaga Seni Mahasiswa Islam (LSMI) HMI Cabang Tasikmalaya merilis lagu berjudul Singgasana. Karya tersebut memuat kritik sosial tentang kekuasaan.

Bagi Tjepi, musik bukan sekadar rangkaian nada dan lirik. namun juga menjadi ruang untuk menyampaikan kegelisahan, membaca realitas, sekaligus menyuarakan hal-hal yang terkadang sulit diucapkan secara langsung.

Semangat itu kembali hadir melalui karya terbarunya berjudul “Singgasana”. Lagu ini membawa pendengar masuk ke dalam cerita tentang kekuasaan, janji, kenyataan hidup rakyat, hingga keberanian untuk berpikir dan bersuara.

Baca Juga:Dorong Pendidikan yang Adaptif, BNI dan Unpad Perkuat KolaborasiBNI Bikin Keseruan Jatinangor Music Fest Makin Lengkap

Tjepi tidak hanya dikenal sebagai musisi dan penulis lagu. Ia juga aktif sebagai Direktur Lembaga Seni Mahasiswa Islam (LSMI) HMI Cabang Tasikmalaya. Dua dunia tersebut—seni dan organisasi—menjadi bagian dari perjalanan kreatifnya.

Di satu sisi, musik memberinya ruang untuk berekspresi. Di sisi lain, aktivitas organisasi mempertemukannya dengan beragam persoalan sosial yang kemudian menjadi bahan perenungan dan gagasan dalam berkarya.

Bagi pendengar yang mengikuti perjalanan musik Tjepi, Singgasana membawa kejutan tersendiri.

Jika karya-karya sebelumnya lebih banyak hadir dengan pendekatan musikal yang sederhana, kali ini Tjepi memilih aransemen yang lebih penuh. Instrumen musik hadir lebih kuat dan membangun atmosfer yang berbeda.

Namun, perubahan tersebut tidak menghilangkan identitas Tjepi. Karakter vokalnya tetap menjadi salah satu kekuatan utama. Suara khasnya berpadu dengan aransemen yang lebih kaya sehingga pesan dalam lagu tidak hanya terasa melalui kata-kata, tetapi juga melalui suasana musik yang dibangun dari awal hingga akhir.

Perubahan musikal itu seolah menjadi cara Tjepi memperluas ruang ekspresinya. Ia tetap membawa karakter yang selama ini dikenal pendengar, tetapi mencoba membuka pintu baru dalam perjalanan bermusiknya.

Tahta dan singgasana digunakan Tjepi untuk menggambarkan jarak antara mereka yang berada di lingkaran kekuasaan dengan masyarakat yang berada di bawahnya.

Kegelisahan itu langsung terasa sejak bait pertama:

“Mereka duduk di singgasana kawan, Tertawa sambil menghitung angka,

Baca Juga:Dari Iwan Saputra ke Demi Hamzah: Estafet Senapan, Estafet Prestasi!Ketua Tim Berganti, Penataan Dadaha Tasikmalaya Jangan Sampai Tidak Tuntas

Diluar sana rakyat sengsara, Dijanjikan bahagia diberi derita.” ujar dia.

0 Komentar