Lirik tersebut kemudian membawa pendengar pada persoalan lain: jarak antara janji dan kenyataan.
“Di atas tahta, mereka berpesta, Di bawah sini kami meronta, Janji manis dusta berbisa,
Berulang lagi tiada habisnya.” kata dia.
Bagi Tjepi, kegelisahan tersebut tidak berhenti pada keluhan. Lagu kemudian bergerak menjadi sebuah seruan agar suara masyarakat didengar.
Baca Juga:Dorong Pendidikan yang Adaptif, BNI dan Unpad Perkuat KolaborasiBNI Bikin Keseruan Jatinangor Music Fest Makin Lengkap
“Sampai kapan derita ini terus teriak?” menjadi pertanyaan yang kemudian disusul dengan penegasan bahwa suara rakyat tidak semestinya berhenti sebagai celoteh yang diabaikan.
“Dengarlah! kami bicara, hanya bicara dan tanpa dibungkam, Untuk harapan kami yang penuh cinta.”
Ada satu bagian yang membuat Singgasana memiliki warna berbeda. Di tengah lagu, Tjepi menyisipkan sebuah puisi. Puisi itu menjadi semacam jeda sekaligus penegasan terhadap pesan utama lagu. Salah satu pertanyaan yang muncul adalah, “lalu kepada siapa kekuasaan itu bekerja?”
Pertanyaan sederhana tersebut membawa pendengar untuk melihat kembali hubungan antara kekuasaan dan masyarakat.
Rakyat, dalam pesan yang dibangun melalui lagu ini, tidak hidup hanya dari janji. Ada kenyataan yang harus dihadapi, ada kebutuhan yang harus dijawab, dan ada suara yang ingin didengar.
Karena itu, seruan “jangan ajarkan kami untuk diam! Ajarkan kami untuk berpikir” menjadi bagian penting dalam Singgasana.
Keberanian yang ditawarkan bukan sekadar keberanian untuk berbicara keras. Lebih jauh, keberanian itu adalah keberanian untuk berpikir, mempertanyakan keadaan, menyampaikan keresahan, dan mempertahankan keyakinan terhadap sesuatu yang dianggap benar.
Baca Juga:Dari Iwan Saputra ke Demi Hamzah: Estafet Senapan, Estafet Prestasi!Ketua Tim Berganti, Penataan Dadaha Tasikmalaya Jangan Sampai Tidak Tuntas
Meski sarat kritik sosial, Singgasana tidak diarahkan sebagai ungkapan kebencian terhadap negeri.
“Bukan karena kami membenci negeri ini, justru karena kami terlalu mencintainya”, kalimat tersebut menjadi kunci untuk memahami keseluruhan pesan lagu,” kata dia.
Kritik ditempatkan sebagai bentuk kepedulian. Kegelisahan muncul bukan karena ingin menjauh, tetapi karena ada rasa memiliki dan keinginan untuk melihat keadaan menjadi lebih baik.
Di titik inilah musik Tjepi menemukan ruangnya. Lagu tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga menjadi medium untuk mengajak pendengar berhenti sejenak, mendengar, kemudian berpikir.
