TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Saya sangat wow.
Sedih juga sedikit. Kecewa, mungkin. Tapi setelah dipikir-pikir: wow lagi.
Rocky Gerung akhirnya masuk Istana. Bukan untuk berdebat dengan pemerintah. Bukan sebagai pengamat yang duduk di luar pagar sambil mengkritik dari kejauhan.
Kali ini namanya resmi masuk ke dalam lingkaran orang-orang yang tugasnya memberikan nasihat dan pertimbangan kepada Presiden.
Presiden Prabowo Subianto melantik Rocky sebagai anggota Dewan Pertimbangan Presiden atau Wantimpres, Jumat, 2 Oktober 2026. Ia dilantik bersama puluhan tokoh dari berbagai latar belakang.
Baca Juga:Soal Dewas RSUD, Heri Ahmadi: Kata Sekda Boleh Cenah!Asep MP: Tanyakan ke BKPSDM!
Yang menarik bukan hanya Rocky. Yang menarik justru rombongan di sekelilingnya. Wantimpres kali ini seperti ruang tunggu Indonesia.
Ada Pratikno sebagai ketua. Ada Hatta Rajasa sebagai wakil ketua. Muhammad Qodari menjadi sekretaris. Lalu ada tokoh agama, pengusaha, mantan pejabat, purnawirawan, akademisi, hingga tokoh politik.
Ada Quraish Shihab. Ada Shinta Nuriyah Wahid. Ada Gus Yahya. Ada Said Aqil. Ada Agum Gumelar. Ada Budi Gunawan. Ada Chairul Tanjung. Ada Dato’ Sri Tahir. Ada Jusuf Hamka. Ada Ignasius Jonan. Ada Soekarwo. Ada Bambang Soesatyo. Ada Margarito Kamis. Dan tentu saja: Rocky Gerung.
Kalau ini sebuah warung kopi, menunya pasti lengkap. Ada kopi pahit. Ada kopi susu. Ada teh manis. Ada yang suka bicara pelan. Ada yang kalau bicara membuat orang lain diam. Dan ada Rocky.
Dulu Rocky sering berada di luar pagar. Sekarang pagarnya sudah dibukakan.Di situlah letak keunikan politik. Orang yang selama ini dikenal sebagai pengkritik bisa saja suatu hari dipanggil masuk untuk memberi pertimbangan.
Ini bukan pertama kalinya politik membuat orang terkejut. Politik memang begitu. Hari ini bisa berseberangan. Besok bisa satu meja. Hari ini mengkritik kekuasaan. Besok bisa diminta menasihati kekuasaan. Dan lusa? Belum tentu kita tahu.
Justru di situlah saya berharap Rocky tidak kehilangan Rocky-nya. Kalau dulu ia terkenal karena berani mengatakan sesuatu yang tidak enak didengar, semoga setelah duduk di kursi Wantimpres keberanian itu tidak ikut dilepas di depan pintu Istana.
