TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Sore itu kami tidak sedang membahas politik. Padahal yang duduk di depan saya adalah seorang wakil rakyat. Mewakili Kota dan Kabupaten Tasikmalaya di DPRD Provinsi Jawa Barat.
Yang dibicarakan justru usaha. Tentang bagaimana bisnis harus bertahan di tengah ekonomi yang sedang banyak “masuk angin”. Tentang keberanian mengambil risiko. Tentang manusia yang harus terus belajar meski usianya tidak lagi muda.
Namanya H. Budi Mahmud Saputra, SE., MM. Gelar magisternya baru saja ia raih dari Universitas Widyatama. Sebelumnya ia menyelesaikan pendidikan sarjana ekonomi di Universitas Galuh.
Baca Juga:Dari Medan Perang ke Mimbar Pesantren!Anak Ketiga Ditemukan, Pencarian Anak Hilang di Tasikmalaya Tuntas, Misteri Kepergian Mulai Terkuak
Saya tersenyum. Banyak orang berhenti belajar setelah mendapat jabatan. Sebaliknya, ia justru menambah ilmu setelah menjadi pejabat publik.
Mungkin karena ia tahu, gelar bukan sekadar huruf di belakang nama. Gelar adalah pengingat bahwa ilmu harus selalu lebih tinggi daripada ego.
Saya mengenalnya sekitar tahun 2016. Yang memperkenalkan adalah Rahmat Slamet. Seorang pengacara senior. Senior bukan hanya karena pengalaman hukumnya. Umurnya juga memang sudah senior. Meski cara berpakaian dan tongkrongannya masih seperti Gen Z.
Dari situlah perkenalan kami dengan Budi Mahmud Saputra dimulai. Saya lebih senang memanggilnya Haji BM. Lebih singkat. Lebih mudah diingat.
Meski singkatan BM di Indonesia punya banyak arti. Ada yang mengartikan barang mewah. Ada pula yang memberi makna lain yang kurang enak didengar. Tetapi bagi saya, BM cukup berarti satu. Budi Mahmud.
Diskusi dengannya tidak pernah benar-benar selesai. Hari ini bicara bisnis. Besok pembangunan. Lusa investasi. Kadang soal politik. Kadang justru soal kehidupan.
Mungkin karena selama 28 tahun terakhir ia membangun perusahaan. Dari nol. Tidak diwariskan. Tidak jatuh dari langit. Pengalaman itulah yang membuat cara berpikirnya berbeda. Lebih menyeluruh. Lebih melihat persoalan dari banyak sisi.
Baca Juga:Mencari Karcis, Mencari Kadis!Korsleting Listrik, Satu Rumah Terbakar di Kabupaten Tasikmalaya, Damkar dan Tagana Berjibaku Padamkan Api
Ia mau menerima kritik. Bahkan sering meminta kritik. Meski, terus terang, dari luar ia kadang terlihat kurang ajeg. Namun setelah mengenalnya lebih lama, saya justru menemukan sebaliknya.
Ia sangat ajeg. Kalau sudah meyakini sesuatu, sulit digoyang. Bisa keras kepala. Tetapi keras kepala dalam batas yang sehat.
