Dua Telepon Tak Pernah Diam!

Budi mahmud
H. Budi Mahmud Saputra, SE., MM.
0 Komentar

Ia mempertahankan argumentasi bukan karena gengsi. Melainkan karena yakin pada alasan yang dimilikinya. Kalau ternyata salah? Ia juga tidak malu mengakuinya.

Ada satu hal yang menarik. Haji BM adalah orang yang sangat memperhatikan penampilan. Ia pernah berkata kepada saya, kalau penampilannya asal-asalan, rasa percaya dirinya ikut turun.

Masuk akal. Pengusaha hidup dari kepercayaan. Politisi hidup dari kepercayaan. Dua-duanya membutuhkan kesan pertama yang baik. Bukan untuk pamer. Tetapi sebagai bentuk penghormatan kepada orang yang ditemui.

Baca Juga:Dari Medan Perang ke Mimbar Pesantren!Anak Ketiga Ditemukan, Pencarian Anak Hilang di Tasikmalaya Tuntas, Misteri Kepergian Mulai Terkuak

Namun, yang paling membuat saya heran justru bukan itu. Melainkan dua telepon genggam yang nyaris tidak pernah diam.

Saat kami berdiskusi, dua-duanya berbunyi bergantian. Telepon. WhatsApp. Video call. Notifikasi. Tidak berhenti. Bahkan pernah ia meminta saya mengangkat salah satu telepon karena ia sedang menerima panggilan lain.

Saya tertawa. Baru kali itu menjadi “operator dadakan” seorang anggota dewan. Tetapi di situlah saya melihat sesuatu.

Di zaman ketika banyak pejabat sulit dihubungi… Ketika nomor telepon dijaga berlapis-lapis… Ketika WhatsApp sering hanya centang dua tanpa balasan…

Haji BM justru melakukan kebalikannya. Ia membuka pintu komunikasi selebar-lebarnya. Ia merasa, jabatan bukan alasan untuk menjauh. Justru alasan untuk lebih dekat.

Katanya sederhana. “Orang yang paling baik adalah yang paling banyak manfaatnya bagi orang lain.” Meski menjalankannya tidak sederhana.

Sebab membuka akses berarti membuka keluhan. Membuka kritik. Membuka komplain. Membuka harapan. Dan itu melelahkan.

Baca Juga:Mencari Karcis, Mencari Kadis!Korsleting Listrik, Satu Rumah Terbakar di Kabupaten Tasikmalaya, Damkar dan Tagana Berjibaku Padamkan Api

Kini ia dipercaya memimpin DPD PAN Kota Tasikmalaya. Amanah lima tahun ke depan. Targetnya tidak kecil. Justru terdengar sangat ambisius. Tetapi saya tidak melihatnya sebagai orang yang sedang mengejar target. Saya melihatnya sebagai orang yang sedang mencari tantangan.

Karena tantangan adalah habitatnya. Ia pernah bercerita bagaimana mengubah sebuah kawasan tebing menjadi kawasan perumahan.

Orang lain melihat batu. Ia melihat peluang.

Orang lain melihat risiko. Ia melihat masa depan. Mungkin memang begitulah cara seorang pengusaha berpikir.

Lalu saya teringat arti namanya. Budi. Kebijaksanaan. Akal. Budi pekerti.

0 Komentar