TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Politik Indonesia sering kali lebih menarik dibaca seperti kitab strategi perang daripada buku teori demokrasi.
Di permukaan, semua tampak tenang. Senyum bertebaran. Foto bersama menghiasi media sosial. Pidato penuh persatuan. Namun, di balik itu, setiap langkah sebenarnya adalah perhitungan. Setiap pujian memiliki makna. Setiap kedekatan menyimpan kemungkinan.
Dalam dunia pewayangan, dikenal istilah sandi yudha. Perang yang tidak selalu dilakukan dengan pedang. Tetapi dengan penempatan orang. Dengan pembentukan persepsi. Dengan kesabaran membaca waktu.
Baca Juga:Jalan Satset Karaoke!Tiar N Karbala Membuka Jalan Kota Tasikmalaya!
Prabowo Subianto tampaknya memahami betul seni itu. Tidak banyak presiden di Indonesia yang memiliki tiga sumber kekuatan sekaligus.
Ia adalah Presiden Republik Indonesia. Ia juga Ketua Umum Partai Gerindra dan ia menjadi poros utama koalisi pemerintahan.
Dalam teori politik, posisi seperti ini memberi ruang yang sangat luas untuk menentukan arah regenerasi kekuasaan.
Justru karena berada di puncak, ancaman terbesar bukan berasal dari lawan. Melainkan dari kekosongan penerus.
Karena sejarah Indonesia menunjukkan satu pelajaran penting. Pemimpin besar yang gagal menyiapkan pewaris biasanya meninggalkan kekuasaan yang ikut runtuh bersama dirinya.
Di tengah situasi itu, muncul satu nama yang terus bergerak. Kang Dedi Mulyadi. Atau lebih populer disebut KDM. Sebagai Gubernur Jawa Barat, ia membangun gaya kepemimpinan yang berbeda.
Ia tidak terlalu sibuk membangun citra melalui baliho. Ia lebih sering membangun percakapan. Datang ke kampung. Masuk ke sawah. Mengobrol dengan warga.
Baca Juga:Paradoks Karaoke di Kota Tasik!Dua Telepon Tak Pernah Diam!
Menyelesaikan persoalan yang sederhana tetapi langsung menyentuh kehidupan sehari-hari. Politik semacam itu mungkin dianggap terlalu sederhana oleh sebagian elite.
Tetapi justru kesederhanaan itulah yang bekerja di era media sosial. Publik hari ini lebih percaya video spontan daripada konferensi pers. Lebih percaya tindakan daripada slogan.
Berbagai survei nasional mulai menangkap gejala tersebut. Prabowo tetap berada pada posisi yang sangat kuat sebagai presiden.
Namun, di bawahnya, nama KDM terus merangkak naik. Bahkan dalam beberapa simulasi, ia mulai menyalip sejumlah tokoh nasional yang selama ini dianggap langganan bursa calon presiden.
Tentu, survei bukan kitab suci. Ia hanya memotret suasana hati publik pada satu waktu. Ekonomi bisa mengubahnya. Krisis bisa mengubahnya. Kesalahan politik bisa mengubahnya. Bahkan satu kebijakan yang tidak populer dapat menggeser angka dalam hitungan minggu.
