Namun, mengabaikan survei juga bukan pilihan yang bijak.
Sebab ketika nama seseorang terus muncul dalam berbagai pengukuran, berarti sedang terbentuk sesuatu yang lebih besar daripada sekadar angka. Sedang lahir gravitasi politik.
Lalu muncul pertanyaan yang lebih menarik. Bagaimana Prabowo membaca fenomena itu? Apakah KDM hanya gubernur yang kebetulan populer?
Ataukah ia sedang dipersiapkan menjadi salah satu aset politik terbesar Gerindra?
Di sinilah konsep politik Sandi Yudha menjadi relevan.
Baca Juga:Jalan Satset Karaoke!Tiar N Karbala Membuka Jalan Kota Tasikmalaya!
Dalam strategi perang klasik, jenderal yang cerdas tidak pernah mematikan semua calon panglimanya. Justru ia membesarkan mereka. Menguji mereka. Memberi ruang bertarung.
Sekaligus memastikan mereka tetap berada dalam orbit komando. Karena pasukan yang hanya memiliki satu tokoh akan rapuh ketika tokoh itu hilang.
Sebaliknya, pasukan yang memiliki banyak pemimpin akan lebih tahan menghadapi perubahan zaman.
Prabowo tampaknya memahami logika itu. Membiarkan KDM bekerja. Membiarkan popularitasnya tumbuh. Membiarkan masyarakat menilai. Tanpa harus selalu mengendalikan setiap langkah.
Secara politik, itu bukan kelemahan. Itu bisa menjadi investasi. Kalau KDM semakin kuat, Gerindra ikut menikmati keuntungan.
Kalau KDM berhasil menjaga Jawa Barat, pemerintah pusat memperoleh mitra yang efektif. Kalau KDM terus diterima publik, nama besar partai juga ikut terangkat.
Namun, politik tidak pernah berhenti pada satu babak. Setiap kader yang dibesarkan perlahan akan memiliki basis dukungan sendiri. Memiliki relawan sendiri. Memiliki jaringan elite sendiri. Memiliki loyalitas yang tidak selalu identik dengan partai.
Baca Juga:Paradoks Karaoke di Kota Tasik!Dua Telepon Tak Pernah Diam!
Di titik itulah sejarah sering berubah arah. Banyak pewaris akhirnya tumbuh menjadi pusat kekuatan baru. Dan ketika pusat kekuatan baru lahir, hubungan guru dan murid sering memasuki fase yang lebih rumit.
Bukan karena keduanya bermusuhan. Melainkan karena politik selalu memberi ruang bagi lahirnya ambisi.
Prabowo tentu memahami risiko itu. Ia adalah politisi yang terlalu lama berada dalam gelanggang untuk tidak mengerti bahwa setiap pohon besar pada akhirnya akan melahirkan cabang-cabang yang tumbuh ke berbagai arah.
Tetapi seorang pemimpin besar biasanya lebih memilih menghadapi risiko karena memiliki banyak kader daripada menghadapi kepastian kehilangan regenerasi. Karena tanpa penerus, partai akan menua. Tanpa regenerasi, kemenangan hanya akan menjadi cerita masa lalu.
