Deden berpikir, kenapa tutug oncom tidak didorong menjadi salah satu makanan khas Indonesia yang identik dengan Tasikmalaya?
Tasikmalaya jangan hanya dikenal sebagai kota yang punya tutug oncom. Tetapi tutug oncom harus dikenal orang Indonesia sebagai makanan khas yang berasal dari Tasikmalaya.
Ini kelihatannya sederhana. Padahal urusannya panjang. Harus ada standardisasi. Harus ada branding. Harus ada cerita. Harus ada kemasan. Harus ada perlindungan kekayaan intelektual.
Baca Juga:Golkar Kota Tasikmalaya: Iwan Mundur, Nurul Menguat!Kadin Mempersatukan Tiga Orang yang Dulu Berbeda, Kini Menjadi Satu Meja!
Harus ada promosi. Harus ada jaringan distribusi. Dan tentu saja harus ada yang mau makan. Yang terakhir ini saya kira tidak terlalu sulit.
Orang Tasik biasanya tidak perlu disuruh dua kali kalau urusannya makan. Dari tutug oncom, sebenarnya kita bisa melihat bagaimana ekonomi kreatif bekerja.
Produk lokal tidak cukup hanya enak. Ia harus punya identitas. Harus punya cerita. Harus punya nilai ekonomi. Dan harus bisa dibawa keluar dari daerah asalnya.
Itulah pekerjaan rumah Gekrafs. Bukan sekadar membuat pelaku UMKM naik panggung. Tetapi bagaimana setelah turun panggung, omzetnya ikut naik.
Deden tampaknya paham soal itu. Ia ingin Gekrafs menjadi mitra strategis bagi pelaku ekonomi kreatif lokal. Mendampingi mereka tumbuh. Membuka jejaring. Membantu business matching. Mendorong perlindungan hukum.
Sekaligus ikut menghidupkan agenda ekonomi kreatif Kota Tasikmalaya. Termasuk menyambut HUT Kota Tasikmalaya ke-25.
Saya lalu berpikir: 38 pengurus itu banyak.1.800 UMKM itu jauh lebih banyak. Kalau masing-masing pengurus mendampingi sekitar 47 pelaku usaha, pekerjaan rumahnya sudah lumayan.
Baca Juga:Ketua dan Sekretaris SC Mukota Kadin Kota Tasikmalaya Pamit !Mukota Kota Tasik Ditunda, Ada KADIN Jabar di Pusaran Cerita!
Tapi kalau semua hanya sibuk rapat, membuat grup WhatsApp dan mengucapkan “semoga sukses”, 1.800 UMKM tadi mungkin tetap akan berjalan sendiri-sendiri.
Maka tantangan Deden bukan bagaimana membuat Gekrafs terlihat besar. Melainkan bagaimana membuat pelaku ekraf merasa:“Oh, ternyata ada gunanya saya bergabung.”
Kopi kami akhirnya habis. Obrolan juga selesai. Tapi satu hal masih tertinggal di kepala saya. Kalau benar tutug oncom ingin diangkat menjadi makanan khas Indonesia asal Tasikmalaya, mungkin suatu hari nanti orang di Jakarta, Surabaya, Makassar sampai Papua akan mengenalnya.
