CIAMIS, RADARTASIK.ID – Pengalaman menangani persoalan perlindungan anak di lapangan ikut mengubah cara Umin Sapitri Liani (25), guru TK An Nur Sindangkasih, Kabupaten Ciamis, dalam mendidik peserta didik.
Selain mengajar, Umin yang telah empat tahun menjadi guru TK juga aktif sebagai Satgas Komisi Perlindungan Anak Indonesia Daerah (KPAID) Kabupaten Ciamis.
Keterlibatan tersebut membuatnya memahami bahwa tugas guru tidak sebatas menyampaikan materi pembelajaran, tetapi juga memastikan anak merasa aman, nyaman, dan mendapatkan pendekatan yang sesuai dengan kondisi mereka.
Baca Juga:Anggota DPRD Jabar Arip Rachman Pastikan Bantuan Tepat Sasaran, Temui Warga di Cibeureum Kota TasikmalayaHUT ke-25, DPC Partai Demokrat Kabupaten Tasikmalaya Perkuat Komitmen Bersama Rakyat
Bagi Umin, kemampuan memahami dan melindungi anak sama pentingnya dengan penguasaan materi pembelajaran. Guru tidak hanya berhadapan dengan kemampuan akademik, tetapi juga karakter, emosi, serta lingkungan yang memengaruhi tumbuh kembang anak.
Umin merupakan lulusan Program Studi Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini (PG PAUD) Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Kampus Tasikmalaya tahun 2024. Ketertarikannya terhadap isu perlindungan anak mulai tumbuh sejak masih kuliah.
Saat kuliah, Umin mengikuti program magang mandiri di KPAID. Ia menjadi satu dari 10 mahasiswa yang terpilih mengikuti program tersebut selama enam bulan.
Menurutnya, pengalaman magang memberikan pengetahuan yang tidak seluruhnya diperoleh di bangku perkuliahan. Jika perkuliahan lebih banyak memberikan bekal akademis dan materi, magang membuatnya bersentuhan langsung dengan persoalan anak di lapangan.
“Kalau di kuliah kan siklusnya lebih banyak materi saja. Ketika keluar dari zona itu, ternyata banyak ilmu yang bisa didapat,” ujarnya, Rabu (16/9/2026).
Pengalaman tersebut sekaligus membuka pemahamannya mengenai dunia perlindungan anak. Umin mengaku awalnya merasa asing ketika harus mengikuti kegiatan atau penanganan yang berkaitan dengan kepolisian.
“Dulu masuk ke Polres itu rasanya aneh. Tapi setelah magang, saya jadi tahu bagaimana pendampingan anak dan seperti apa dunia anak itu,” katanya.
Baca Juga:Pengayuh Becak di Manonjaya Terima Becak Listrik, Ini Pesan Anggota DPRD Kabupaten Tasikmalaya Jejen JenalMagnet Pilpres 2029 Menguat, Waketum Golkar Ahmad Doli Tangkap Sinyal dari AHY
Selama magang, Umin mulai memahami bahwa persoalan yang dialami anak membutuhkan pendampingan dan penanganan yang tepat. Pengetahuan tersebut kemudian semakin ia dalami melalui penelitian skripsinya.
Dalam skripsi, Umin mengangkat penelitian mengenai kekerasan terhadap anak, khususnya pendampingan terhadap anak yang mengalami kekerasan oleh ibu kandung. Penelitian tersebut mengambil kasus di wilayah Salopa.
