Guru TK Terjun Jadi Satgas KPAID Ciamis, Bekal Wawasan Perlindungan Anak Mengubah Cara Mengajar

Umun sapitri liani
Umin Sapitri Liani (25), guru TK An Nur Sindangkasih, Kabupaten Ciamis, saat sosialisasj beberapa waktu lalu. (Istimewa)
0 Komentar

“Dari situ saya menggali lebih dalam tentang tugas KPAID, bagaimana pendampingan terhadap anak yang mengalami kekerasan,” ucapnya.

Setelah menyelesaikan pendidikan, ketertarikannya terhadap perlindungan anak tidak berhenti. Umin mengajukan diri untuk tetap terlibat dalam kegiatan KPAID.

Sejak 2024, ia dipercaya bergabung sebagai Satgas KPAID Kabupaten Ciamis. Peran tersebut membuatnya semakin sering terlibat dalam sosialisasi perlindungan anak di lingkungan pendidikan, baik di sekolah maupun lembaga pendidikan lainnya.

Baca Juga:Anggota DPRD Jabar Arip Rachman Pastikan Bantuan Tepat Sasaran, Temui Warga di Cibeureum Kota TasikmalayaHUT ke-25, DPC Partai Demokrat Kabupaten Tasikmalaya Perkuat Komitmen Bersama Rakyat

Ia juga pernah menyampaikan materi dalam kegiatan parenting bersama orang tua wali murid. Menurutnya, permintaan sosialisasi perlindungan anak kerap muncul ketika sekolah atau lembaga pendidikan mulai menyadari pentingnya pemahaman mengenai perlindungan anak, terutama setelah muncul persoalan.

Selain di Kabupaten Ciamis, Umin juga cukup banyak mengikuti kegiatan sosialisasi di wilayah Kabupaten Tasikmalaya

Berbagai pengalaman tersebut kemudian ia bawa ke ruang kelas. Umin menyadari bahwa pemahaman mengenai perlindungan anak tidak hanya penting bagi orang tua atau lembaga perlindungan anak, tetapi juga bagi guru yang setiap hari berinteraksi langsung dengan peserta didik.

Salah satu perubahan yang dirasakan Umin adalah cara berkomunikasi dengan anak. Ia semakin memahami bahwa tindakan verbal yang dianggap sederhana, seperti membentak, dapat berdampak terhadap kondisi psikologis dan kenyamanan anak.

“Sekarang kalau di TK, misalnya, anak tidak boleh dibentak secara verbal. Kita harus lebih memahami pendekatan kepada anak,” tuturnya.

Menurut Umin, pengalaman sebagai Satgas KPAID juga mengubah perspektifnya dalam mengajar. Anak tidak bisa diposisikan sebagai objek yang hanya menerima dan dijejali berbagai pengetahuan dari guru.

“Anak itu bukan gelas kosong yang harus dijejali dengan pengetahuan. Anak harus dibuat nyaman,” ujarnya.

Baca Juga:Pengayuh Becak di Manonjaya Terima Becak Listrik, Ini Pesan Anggota DPRD Kabupaten Tasikmalaya Jejen JenalMagnet Pilpres 2029 Menguat, Waketum Golkar Ahmad Doli Tangkap Sinyal dari AHY

Pendekatan tersebut membuat Umin berusaha membangun suasana belajar yang lebih ramah bagi anak. Guru tidak hanya menyampaikan materi, tetapi juga harus memahami karakter setiap peserta didik.

Ia menilai proses belajar berlangsung dua arah. Tidak hanya anak yang belajar dari guru, tetapi guru pun belajar dari anak-anak.

“Guru juga belajar dari anak-anak. Belajar sabar, belajar memahami karakter mereka,” katanya.

0 Komentar