Kadin Mempersatukan Tiga Orang yang Dulu Berbeda, Kini Menjadi Satu Meja!

Mukota kadin
Kebersamaan Agus Nugraha, Endang Rusyanto dan Alif Hamzah dalam kegiatan Mukota Kadin Kota Tasikmalaya
0 Komentar

TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID — Politik itu kadang seperti kopi. Pahitnya terasa di awal. Tetapi kalau sudah dicampur gula, siapa pun bisa duduk semeja.

Itulah kira-kira yang terjadi dalam Mukota V Kadin Kota Tasikmalaya. Tiga nama tiba-tiba muncul. Bukan sebagai calon. Bukan pula sebagai tim sukses.

Tetapi sebagai Steering Committee (SC). Namanya Alif Hamzah, Endang Rusyanto, dan Agus Nugraha atau populer disapa Agus Gayatri.

Baca Juga:Ketua dan Sekretaris SC Mukota Kadin Kota Tasikmalaya Pamit !Mukota Kota Tasik Ditunda, Ada KADIN Jabar di Pusaran Cerita!

Alif menjadi Ketua SC. Endang menjadi Sekretaris. Agus menjadi anggota. Ketiganya bukan nama asing dalam dunia organisasi Tasikmalaya.

Alif adalah Ketua DPP GAZA Indonesia sekaligus Wakil Ketua Bidang Infrastruktur Kadin. Sekaligus mantan timses Ivan Dicksan. Endang adalah mantan Ketua KNPI dua periode dan kader PKB yang juga mantan timses Yanto Oce.

Agus Nugraha adalah Ketua baru GAPENSI Kota Tasikmalaya sekaligus Ketua Komite Tetap Jasa Konstruksi Kadin. Yang juga mantan timses H Muhamad Yusuf. Tiga orang. Tiga latar belakang. Tiga jaringan.

Dan, yang membuat cerita ini menarik: ketiganya kini dikenal berada di barisan pendukung Muhamad Abdul Karim.

Lalu mereka ditunjuk menjadi SC. Kemudian apa yang terjadi? Mukota berjalan. Sidang berlangsung.

Dan Muhamad Abdul Karim—MAK—ditetapkan sebagai Ketua Kadin Kota Tasikmalaya periode selanjutnya secara aklamasi. Selesai.

Cepat. Hampir seperti memasak mi instan.Tinggal tuang air panas. Tunggu tiga menit. Jadi.

Baca Juga:MBK Ventura Dorong Terwujudnya Keluarga Sehat, Cerdas dan Sejahtera di Cisayong Kabupaten TasikmalayaKadin, Kursi Rp100 Juta dan Kartu Merah!

Bedanya, Mukota bukan mi instan. Ada AD/ART. Ada peserta. Ada calon. Ada panitia. Ada dinamika. Ada surat. Bahkan ada drama. Tapi akhirnya tetap satu rasa. Karim.

Di sinilah menariknya politik organisasi. Yang kemarin berbeda bisa hari ini bersalaman. Yang dulu berseberangan bisa kemudian duduk satu meja.

Yang pernah kalah bisa menjadi bagian dari tim yang memenangkan orang lain. Apakah itu salah? Tidak. Sama sekali tidak. Justru itulah politik.

Politik bukan ilmu untuk membuat orang selalu bermusuhan. Politik adalah seni mencari titik temu. Kadang titik temunya adalah kepentingan. Kadang jabatan. Kadang kekuasaan. Kadang cukup satu kata: misi.

0 Komentar