TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Pertandingan tinggal sehari. Pemain sudah siap. Seragam sudah disetrika. Penonton mungkin sudah menyiapkan kursi.
Bahkan kursi ketua KADIN Kota Tasikmalaya mungkin sudah terasa lebih panas dari biasanya. Lalu, sehari sebelum pertandingan, peluit mendadak tidak berbunyi.
Mukota V KADIN Kota Tasikmalaya ditunda.
Pengumumannya keluar Jumat, 11 September 2026. Padahal pertandingan—maaf, musyawarah—semula dijadwalkan Sabtu, 12 September 2026.
Baca Juga:MBK Ventura Dorong Terwujudnya Keluarga Sehat, Cerdas dan Sejahtera di Cisayong Kabupaten TasikmalayaKadin, Kursi Rp100 Juta dan Kartu Merah!
Alasannya cukup halus. Ada beberapa hal yang masih memerlukan penyelesaian, koordinasi, serta arahan lebih lanjut dari KADIN Provinsi Jawa Barat.
Dengan kata lain: wasitnya belum mendapat arahan. Atau mungkin pertandingan belum boleh dimulai.
Panitia menyampaikan bahwa Mukota V belum dapat dilaksanakan sampai ada pemberitahuan resmi berikutnya. Tidak ada tanggal pengganti. Tidak ada jam kick-off baru.
Yang ada hanya kalimat klasik dalam setiap penundaan: menunggu arahan. Ini menarik.
Karena sehari sebelumnya, yang ramai justru soal verifikasi calon ketua.
Ada calon yang dinyatakan tidak lolos. Ada yang mempertanyakan dasar keputusan.
Ada yang bicara soal formulir. Ada yang bicara soal syarat badan hukum. Ada pula tudingan adanya penjegalan.
Dan tentu saja ada nama KADIN Jawa Barat di tengah pusaran cerita. SC mengatakan mereka hanya menjalankan hasil verifikasi KADIN Jawa Barat.
Baca Juga:Malik Mahpud dan Burung Macaw!PKL Dadaha “Diseleksi” Tim Penataan Kota Tasikmalaya! Dari 179, Hanya Sekitar 50 yang Masuk Prioritas
Kubu bakal calon yang gugur mengatakan masih ada pertanyaan yang belum terjawab. Lalu hari ini datanglah pengumuman penundaan. Mukota belum jadi digelar. Peluit belum ditiup. Pertandingan belum dimulai. Tetapi panasnya sudah seperti final.
Dalam sepak bola, kalau pertandingan ditunda sehari sebelum kick-off, biasanya ada alasan yang mudah dipahami.
Hujan terlalu deras. Lapangan tergenang. Stadion tidak aman. Atau ada masalah teknis.
Di Mukota ini alasannya lebih filosofis: “masih memerlukan penyelesaian, koordinasi, serta arahan.” Kalimat itu punya daya magis.
Ia bisa berarti banyak hal. Bisa berarti ada masalah. Bisa berarti ada perbedaan pendapat. Bisa berarti ada dokumen yang harus diperiksa ulang.
Bisa juga berarti orang-orang masih mencari jalan keluar agar pertandingan tidak berubah menjadi pertandingan yang dipersoalkan sejak menit pertama. Yang terakhir justru paling sehat.
