Sebab lebih baik pertandingan ditunda daripada dipaksakan lalu hasilnya diperdebatkan sepanjang musim. Kursi ketua KADIN memang hanya satu. Tetapi pertanyaan tentang prosesnya bisa seribu.
Yang membuat penundaan ini semakin menarik adalah waktunya. H-1. Bukan H-30. Bukan H-14. Bukan H-7. Hanya satu malam sebelum musyawarah.
Ini seperti seseorang sudah memakai jas untuk menghadiri pesta pernikahan, lalu lima menit sebelum berangkat menerima pesan: “Acara ditunda. Tunggu arahan berikutnya.”
Baca Juga:MBK Ventura Dorong Terwujudnya Keluarga Sehat, Cerdas dan Sejahtera di Cisayong Kabupaten TasikmalayaKadin, Kursi Rp100 Juta dan Kartu Merah!
Jasnya tetap bagus. Sepatunya tetap mengilap. Tetapi tidak tahu harus pergi ke mana. Begitulah mungkin perasaan para bakal calon dan peserta Mukota hari ini. Mereka sudah bersiap. Tetapi belum tahu kapan harus bertanding.
Ada satu hal yang patut dihargai dari penundaan ini. Panitia setidaknya memilih berhenti. Itu lebih baik daripada memaksa berjalan ketika masih ada persoalan yang belum selesai.
Sebab musyawarah organisasi bukan sekadar acara seremonial. Bukan sekadar memukul palu. Bukan sekadar mengangkat tangan. Dan bukan sekadar mengambil foto bersama ketua terpilih.
Mukota adalah proses menentukan siapa yang akan membawa organisasi dunia usaha Kota Tasikmalaya beberapa tahun ke depan.
Karena itu, cara memilih menjadi sama pentingnya dengan siapa yang dipilih. Kalau prosesnya transparan, yang menang akan lebih mudah diterima.
Kalau prosesnya dipertanyakan, yang menang pun bisa terus membawa ekor pertanyaan.
Sekarang bola ada di KADIN Jawa Barat. Panitia sudah menyatakan menunggu arahan. Peserta menunggu kepastian. Bakal calon menunggu kejelasan.
Baca Juga:Malik Mahpud dan Burung Macaw!PKL Dadaha “Diseleksi” Tim Penataan Kota Tasikmalaya! Dari 179, Hanya Sekitar 50 yang Masuk Prioritas
Publik juga menunggu penjelasan. Terutama mengenai persoalan yang sejak awal membuat Mukota ini panas: mengapa seseorang bisa dinyatakan tidak memenuhi syarat setelah sebelumnya mengikuti proses pendaftaran?
Apa sebenarnya hasil verifikasinya? Apa dasar hukumnya? Bagaimana standar pemeriksaannya? Apakah semua calon diperiksa dengan ukuran yang sama?
Dan apakah penundaan ini akan menjadi kesempatan untuk menjelaskan semuanya secara terbuka?
Pertanyaan-pertanyaan itu tidak akan hilang hanya karena Mukota ditunda. Malah sebaliknya. Penundaan memberi kesempatan untuk menjawabnya.
Ada pelajaran kecil dari sepak bola. Wasit yang baik bukan wasit yang membuat pertandingan cepat selesai.
