Malik Mahpud dan Burung Macaw!

Malik mahpud
Malik Mahpud
0 Komentar

TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID — Ada pertemuan yang direncanakan. Ada pula pertemuan yang datang begitu saja, seperti hujan ketika kita lupa membawa payung.

Pertemuan saya dengan Al Malik Masahiko Otsuka Mahpud—atau yang lebih akrab dipanggil Malik Mahpud—termasuk yang kedua.

Siang itu, sekitar pukul 14.00, saya sedang berdiskusi dengan seorang sahabat karib di sebuah kafe di Jalan Kapten Naseh. Tiba-tiba seseorang datang. Wajahnya terasa tidak asing.

Baca Juga:PKL Dadaha “Diseleksi” Tim Penataan Kota Tasikmalaya! Dari 179, Hanya Sekitar 50 yang Masuk PrioritasMeski Jalur Ditutup Demi Penataan, PKL Jalan Dadaha Kota Tasikmalaya Tetap Bertahan Walau Pendapatan Anjlok

Saya lihat lagi. Oh, Malik. Anak muda 32 tahun yang belakangan ini sedang ramai menjadi bahan pembicaraan publik Tasikmalaya.

Bukan karena membuat keributan. Justru karena memilih jalan. Malik memilih bergabung dengan Partai Golkar. Ia kemudian dipercaya menduduki posisi Wakil Bendahara Umum DPD Golkar Jawa Barat.

Untuk anak muda 32 tahun, itu bukan posisi kecil. Jabatan itu prestisius. Sekaligus berbahaya. Bukan berbahaya karena kursinya bisa jatuh. Tetapi karena semakin tinggi kursi, semakin banyak orang yang berharap kita tidak jatuh.

Malik datang dengan pakaian yang justru jauh dari kesan pejabat. Baju kaos berkerah putih, dengan perpaduan garis putih, hijau dan biru. Celana jeans. Segar. Sangat anak muda.

Tetapi ada satu benda yang membuat saya berhenti memperhatikan pakaiannya. Dua jam tangan. Tangan kiri satu. Tangan kanan satu. Keduanya berwarna hijau. Saya tidak tahu apa maksudnya.

Mungkin Malik ingin memastikan bahwa kalau satu jam berhenti, masih ada jam lainnya. Atau jangan-jangan ia sedang belajar bahwa dalam politik, waktu tidak cukup dilihat dari satu sisi.

Ada waktu untuk maju. Ada waktu untuk menunggu. Ada waktu untuk diam. Dan ada waktu untuk mengatakan sesuatu yang sebaiknya jangan dikatakan.

Baca Juga:Misi Penataan Dadaha Kota Tasikmalaya Dinilai Tidak RealistisPemkot Tasikmalaya Ingin Menata Dadaha, Meskipun PKL Tetap Ada

Dua jam tangan, rupanya, bisa menjadi pelajaran politik. Padahal mungkin Malik hanya suka jam. Begitulah manusia. Kita sering memberi makna kepada sesuatu yang sebenarnya sederhana.

Jujur, itu pertama kalinya saya bertatap muka dengan Malik. Sekaligus pertama kali berdiskusi langsung. Dan saya mendapatkan kejutan. Bukan kejutan karena nama besar keluarganya.

Bukan pula karena jabatan barunya di Golkar. Saya justru terkejut oleh cara berpikirnya. Pembicaraan bergerak ke sana kemari. Ekonomi. Sosial. Politik. Perubahan masyarakat.

0 Komentar