Malik Mahpud dan Burung Macaw!

Malik mahpud
Malik Mahpud
0 Komentar

Ia mampu menganalisis persoalan dengan cukup tajam. Pengetahuannya luas. Yang paling menarik justru ketika ia mengatakan alasan masuk politik.

Ia ingin belajar politik. Bukan untuk manggung sebagai politisi. Kalimat itu terdengar sederhana.

Tetapi di dunia politik, kalimat ringan sering menjadi barang langka. Banyak orang masuk politik karena ingin dikenal. Malik mengatakan ingin belajar. Banyak orang ingin berada di atas panggung. Malik mengaku ingin memahami panggung. Semoga ia benar-benar belajar.

Baca Juga:PKL Dadaha “Diseleksi” Tim Penataan Kota Tasikmalaya! Dari 179, Hanya Sekitar 50 yang Masuk PrioritasMeski Jalur Ditutup Demi Penataan, PKL Jalan Dadaha Kota Tasikmalaya Tetap Bertahan Walau Pendapatan Anjlok

Sebab politik adalah sekolah yang tidak pernah memberikan ijazah. Ujiannya setiap lima tahun. Dan kadang-kadang gurunya adalah rakyat.

Tetapi ada satu “orang” lain yang siang itu justru mencuri perhatian saya. Seekor burung. Bukan burung biasa. Blue-and-gold macaw. Warnanya biru cerah di bagian punggung, kuning keemasan di bagian dada. Cantik sekali.

Burung itu ditenteng Malik. Dibawa ke mana-mana. Disayang sekali. Saya memperhatikan burung itu. Ia memperhatikan saya. Kami sama-sama tidak saling mengenal. Bedanya, saya tidak tahu apa yang dipikirkannya.

Dan mungkin ia juga tidak tahu apa yang saya pikirkan. Macaw ini bisa hidup lebih dari 50 tahun. Nah, di situlah saya mulai menemukan filsafatnya.

Memelihara macaw bukan sekadar memelihara burung. Anda sebenarnya sedang memilih teman hidup untuk waktu yang sangat panjang.

Politisi saja belum tentu bertahan 50 tahun di politik. Partai bisa berganti. Jabatan bisa berganti. Koalisi bisa berganti. Ketua bisa berganti. Tetapi burung itu bisa tetap bersama pemiliknya.

Macaw juga bukan burung sembarangan. Ia dikenal cerdas. Bisa mengenali pemiliknya. Bisa belajar meniru suara. Ini menarik. Sebab kalau dibawa ke dunia politik, kemampuan meniru suara adalah keterampilan yang agak berbahaya.

Baca Juga:Misi Penataan Dadaha Kota Tasikmalaya Dinilai Tidak RealistisPemkot Tasikmalaya Ingin Menata Dadaha, Meskipun PKL Tetap Ada

Di politik, kita harus pandai mendengar.Bukan sekadar pandai meniru. Sebab kalau semua orang hanya meniru suara pemimpinnya, akhirnya satu ruangan terdengar seperti satu burung.

Padahal demokrasi justru membutuhkan banyak suara. Burung itu juga termasuk salah satu kelompok paruh bengkok paling ikonik di dunia. Paruhnya kuat.

Tetapi ia tidak selalu digunakan untuk menggigit. Kadang hanya untuk membuka makanan. Ini juga pelajaran politik. Kekuatan tidak selalu harus dipakai untuk menyerang. Kadang kekuatan justru terlihat ketika kita tahu kapan tidak perlu menggunakannya.

0 Komentar