TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Pencarian dua nelayan asal Desa Sindangkerta, Kecamatan Cipatujah, Kabupaten Tasikmalaya, yang hilang terbawa arus laut di Pantai Pamoekan memasuki hari ketiga, Kamis (1/10/2026). Namun hingga kemarin, Tim SAR gabungan belum menemukan keberadaan keduanya.
Kendati demikian, sejumlah barang milik kedua nelayan telah ditemukan. Barang tersebut di antaranya perahu, alas kaki, serta barang-barang lain yang dibawa di dalam perahu. Tim SAR gabungan yang terdiri dari Basarnas, Pos SAR Tasikmalaya, Polairud, Balawista, HNSI dan FK Tagana Tasik Selatan terus melakukan pencarian menggunakan perahu bermesin.
Ketua FK Tagana Kabupaten Tasikmalaya, Jembar Adisetya, mengatakan anggota Tagana wilayah Selatan bersama Basarnas Pangandaran, Pos SAR Tasikmalaya, HNSI dan Balawista masih melakukan pencarian terhadap dua nelayan yang hilang di Laut Pamoekan, Sindangkerta, Cipatujah. Rencananya proses pencarian akan berlangsung antara 3-7 hari.
Baca Juga:UPI Tasikmalaya Perkuat Kompetensi Guru SD Berbasis Budaya dan DigitalSoal Kasus Siswa SMAN 3 Tasikmalaya, Gubernur Jabar Minta Kepsek Jangan Ragu Bertindak
“Jika lebih dari 7 hari, maka proses pencarian akan dihentikan oleh Tim SAR. Nanti akan dikembalikan lagi kepada pihak keluarga untuk mengikhlaskan, standar pencarian 3-7 hari, tidak ditemukan dihentikan pencariannya,” terang Jembar.
Jembar menyebutkan, perahu yang ditumpangi ketiga nelayan tersebut terbalik bukan karena faktor cuaca. Perahu diduga menabrak batu karang akibat human error, kemudian terbalik dan terbawa arus ombak.
“Kami himbau agar nelayan lebih waspada lagi, walaupun sudah berpengalaman dan lama melaut, tetap safety dan perhitungan agar terhindar dari human error,” tambah dia.
Ketua HNSI Kabupaten Tasikmalaya, Dedi Mulyadi, mengatakan pencarian juga melibatkan tokoh sepuh atau pawang secara spiritual untuk mencari titik keberadaan kedua nelayan yang hilang.
“Pihak keluarga nelayan yang hilang awalnya syok, sekarang sudah merasa tenang dan bisa menerima, awalnya masih syok wajar,” kata Dedi.
Dedi juga meminta para nelayan tetap mengutamakan keselamatan saat berangkat maupun pulang melaut. Menurutnya, nelayan harus memperhitungkan kondisi laut, terutama ketika karang tertutup atau terhalang ombak.
“Korban yang hilang, salah satunya sudah puluhan tahun melaut. Karena kurang safety, dan SOP seperti pelampung tidak dipakai. Maka akan berujung kecelakaan di laut,” tuturnya.
