TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Untuk pensiunan ASN, tantangan terbesar sebenarnya bukan uang. Taspen masih jalan. Anak-anak sudah selesai sekolah. Cicilan rumah, kalau ada, sebagian besar sudah lunas.
Yang berubah justru satu hal. Panggung.
Dulu pukul 07.00 sudah apel. Datang paling pagi, sepatu mengilap, seragam Korpri rapi. Begitu lewat halaman kantor, orang-orang berdiri. Hormaaat!
Sekarang pukul 07.00 suasananya berbeda. Bukan lagi suara komandan apel. Melainkan suara istri dari dapur. “Papa, mau nyapu halaman nggak?”. Itulah pensiun.
Baca Juga:Akibat Hukum Pengangkatan Dewas RSUD Dr SoekardjoKetika Viman Ditanya Soal Diky!
Seragam berganti. Jabatan hilang. Meja kerja berganti meja makan. Yang paling sulit bukan kehilangan gaji. Tetapi kehilangan peran.
Karena itu pensiun sebaiknya jangan dianggap sebagai akhir pekerjaan. Pensiun adalah pergantian pekerjaan. Pergantian panggung. Pergantian seragam.
Dari seragam Korpri menjadi kaus dan sarung. Jangan buru-buru menjadi pengusaha. Kesalahan pertama yang sering dilakukan pensiunan adalah merasa harus segera punya usaha.
Baru menerima SK pensiun, teman datang.
“Pak, ada bisnis bagus.”. “Usaha apa?. “Pom bensin mini.”. Besoknya ada lagi.
“Kita buka kafe saja.” Lusa: “Ada lahan durian. Bagus, Pak.” Semua terdengar menarik.
Tetapi tahun pertama pensiun justru bukan waktunya terburu-buru. Nikmati dulu uang pensiun. Pelajari kembali pola pengeluaran keluarga. Jangan karena punya uang pesangon lalu semua langsung dimasukkan ke usaha yang belum dipahami.
Pensiun membutuhkan fondasi. Bukan keberanian yang berlebihan. Salah satu pola sederhana bisa dibuat: 50-30-20.
Baca Juga:Misteri Cuti Asep MP!Dari Ciamis Mulai Menghitung Jabar!
50 persen untuk kebutuhan hidup bulanan. 30 persen untuk menikmati hidup: cucu, jalan-jalan, hobi, ibadah. 20 persen untuk cadangan kesehatan dan keadaan darurat.
Tentu angka itu bukan hukum negara. Kondisi setiap keluarga berbeda. Yang penting: jangan sampai pensiun justru menjadi masa ketika uang yang selama puluhan tahun dikumpulkan habis dalam beberapa bulan.
Jangan sampai rumah sakit menjadi kantor baru. Ada ironi lain. Dulu mungkin sering sidak rumah sakit. Sekarang jangan sampai rumah sakit menjadi tempat paling sering dikunjungi.
Kesehatan harus menjadi pekerjaan utama setelah pensiun. Tidak perlu olahraga yang gagah. Jalan kaki 30 menit cukup untuk memulai. Bisa di Dadaha. Bisa di alun-alun. Bisa juga keliling kompleks.
