Tidak perlu langsung mencari jabatan baru. 60 hari berikutnya: memilih. Jangan ikut semua komunitas. Pilih satu atau dua.
Komunitas sepeda. Pengajian. Pensiunan. Berkebun. Atau kegiatan sosial.
90 hari berikutnya: mulai. Cari satu aktivitas rutin. Tidak harus menghasilkan uang besar. Yang penting menghasilkan tiga hal: kesibukan, penghargaan, dan manfaat.
Kalau kemudian menghasilkan uang, tentu lebih bagus. Ada tiga pantangan.Pensiunan ASN juga perlu belajar satu seni yang paling sulit: tahu kapan harus berhenti.
Baca Juga:Akibat Hukum Pengangkatan Dewas RSUD Dr SoekardjoKetika Viman Ditanya Soal Diky!
Pertama, jangan terlalu sering datang ke kantor lama. Seminggu sekali mungkin cukup. Kedua, jangan terlalu sering ikut campur urusan kantor. Dulu itu wilayah Anda. Sekarang sudah bukan.
Ketiga, jangan terlalu sering mengatakan:“Zaman saya dulu…” Kalimat itu boleh sesekali. Jangan setiap hari.
Sebab zaman memang sudah berubah. Dan perubahan itu bukan penghinaan terhadap masa lalu. Itulah hukum kehidupan.
Pensiun bukan kehilangan panggung. Pada akhirnya, pensiun memang membuat seseorang kehilangan tepuk tangan kantor. Tidak ada lagi apel pagi. Tidak ada lagi staf yang berdiri ketika atasan datang. Tidak ada lagi telepon dari bawahan yang bertanya, “Bapak di mana?”
Tetapi bukan berarti hidup selesai. Justru setelah puluhan tahun mengurus orang lain, pensiunan punya kesempatan mengurus dirinya sendiri. Mengurus kesehatan. Mengurus keluarga. Mengurus kebun. Mengurus masjid. Mengurus cucu. Mengurus hati.
Dan mungkin, untuk pertama kalinya, mengurus hidup tanpa harus mengejar tanda tangan siapa pun. Pensiun bukan garis finish. Pensiun adalah ganti seragam.
Dari Korpri menjadi kaus. Dari sepatu pantofel menjadi sandal. Dari apel pagi menjadi jalan pagi. Dan dari pertanyaan, “Besok rapat jam berapa?” menjadi pertanyaan istri: “Papa mau nyapu halaman nggak?”. (red)
