TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID— Politik ternyata tidak selalu harus dilakukan di ruang rapat. Tidak harus di hotel. Tidak harus di gedung partai.
Minggu pagi, 27 September 2026, politik Kota Tasikmalaya justru turun ke kaki Gunung Galunggung. Namanya Bukit Nangreu.
Udara pagi masih dingin. Kabut belum sepenuhnya pergi. Wali Kota Tasikmalaya Viman Alfarizi Ramadhan datang bukan dengan agenda rapat.
Baca Juga:Misteri Cuti Asep MP!Dari Ciamis Mulai Menghitung Jabar!
Ia datang untuk lari. Lari memang sudah seperti kewajiban pagi bagi Viman. Tetapi kali ini, larinya ditemani para politisi. Bukan pelari biasa.
Mereka adalah para pentolan partai politik yang pernah menjadi bagian dari koalisi pemenangan Viman-Diky Candra pada Pilkada 2024, ditambah PPP, PKS dan Demokrat.
Hadir Ketua Gerindra Kota Tasikmalaya H Aslim. Ketua PKS Agus Sugiarto. Ketua PPP H Enjang Bilawini. Sekretaris DPC Demokrat Irpan Ramdani. Dari NasDem hadir Tjahja Wandawa dan Yayat. Ada pula H Andi Warsandi, Jeni Jayusman, Irwan Nur Komara, Adam Mulyana dan Reza Rizkichani.
Lari dulu. Makan kemudian. Ngobrolnya justru yang paling panjang. Begitulah politik. Kadang rapat resmi hanya menghasilkan notulen.
Tetapi makan bersama bisa menghasilkan banyak pertanyaan. Pertemuan itu dibungkus dalam suasana silaturahmi. Tidak ada podium. Tidak ada meja panjang khas rapat pemerintahan.
Tidak ada mikrofon. Yang ada hanya makanan, kopi, pemandangan Galunggung dan sejumlah tokoh yang sebagian besar sudah lama mengenal Viman.
Pembicaraan pun melebar. Dari persoalan Kota Tasikmalaya. Dari hubungan eksekutif dan legislatif. Sampai soal bagaimana menjaga agar pemerintahan tetap kondusif.
Baca Juga:Ngobrol Pagi di Kantin RSOP Ciamis, Ada Langkah Dahsyat Dokter Iman SolichinPasca Digeledah KPK, Guru SMAN di Tasikmalaya Diberi Cuti untuk Bereskan Masalah
Ini penting. Sebab pemerintah kota tidak mungkin bekerja sendirian. Wali kota membutuhkan DPRD. DPRD membutuhkan komunikasi dengan eksekutif. Dan keduanya membutuhkan partai politik yang menjadi kendaraan politik masing-masing.
Kalau hubungan tiga kaki ini goyah, meja pemerintahan bisa ikut bergoyang. Karena itu, kondusivitas eksekutif-legislatif menjadi salah satu bahan pembicaraan.
Di tengah suasana santai itu muncul satu pertanyaan yang tidak terlalu santai. Tentang Diky Candra. Wakil Wali Kota Tasikmalaya.
Beberapa pengurus partai politik menanyakan bagaimana hubungan Viman dengan Diky. Pertanyaan itu muncul bukan tanpa alasan.
