Ketika Viman Ditanya Soal Diky!

Viman wali kota tasik
Viman Alfarizi berfoto bersama dengan para pimpinan parpol di kawasan Galunggung. (IST)
0 Komentar

Belakangan, publik memang melihat Viman dan Diky tidak sesering sebelumnya tampil bersama dalam berbagai kegiatan.

Di sisi lain, Diky juga terlihat lebih sering turun langsung ke masyarakat. Dalam sejumlah kesempatan, Diky bahkan menyampaikan berbagai kegelisahan dan curahan hatinya kepada publik.

Tetapi apakah itu berarti ada jarak? Belum tentu. Politik sering kali memang begitu. Orang melihat dua orang tidak berjalan beriringan.

Baca Juga:Misteri Cuti Asep MP!Dari Ciamis Mulai Menghitung Jabar!

Lalu menganggap mereka sedang berjalan menjauh. Padahal bisa saja hanya sedang memilih jalan yang berbeda. Yang menarik justru jawaban Viman ketika pertanyaan itu muncul.

Tidak ada penjelasan panjang. Tidak ada bantahan. Tidak ada pula pengakuan. Viman hanya mengangguk. Lalu diam. Diam itu memang mahal.

Sebab kalau bicara, orang bisa mengutip. Kalau diam, orang justru bisa menafsirkan. Dan politik paling senang hidup dari tafsir.

Pada Pilkada 2024, Viman-Diky maju sebagai pasangan calon yang diusung sejumlah partai, termasuk NasDem dan Gerindra. Dokumen KPU mencatat pasangan tersebut sebagai nomor urut 4 dengan dukungan NasDem, Gerindra, PBB, Gelora dan Ummat.

Kini peta silaturahminya tampak lebih lebar. PPP. PKS. Demokrat. Tiga nama yang ikut hadir dalam pertemuan di Bukit Nangreu.

Artinya, komunikasi politik tidak berhenti setelah pilkada selesai. Justru setelah menang, pekerjaan politik biasanya baru dimulai.

Karena memenangkan pilkada hanya soal mendapatkan mandat. Mengelola pemerintahan adalah soal menjaga hubungan.

Baca Juga:Ngobrol Pagi di Kantin RSOP Ciamis, Ada Langkah Dahsyat Dokter Iman SolichinPasca Digeledah KPK, Guru SMAN di Tasikmalaya Diberi Cuti untuk Bereskan Masalah

Dengan partai. Dengan DPRD. Dengan birokrasi. Dengan masyarakat. Dan, tentu saja, dengan pasangan sendiri.

Pagi itu Galunggung mungkin tidak peduli siapa ketua partai. Tidak peduli siapa wali kota. Tidak peduli siapa wakil wali kota.

Gunung tetap gunung. Kabut tetap kabut. Yang berubah hanya manusia yang berada di bawahnya.

Mereka sedang membicarakan Kota Tasikmalaya. Tentang pemerintahan. Tentang hubungan politik. Tentang legislatif dan eksekutif. Dan tentang sebuah nama yang belakangan mulai sering disebut: Diky Candra.

Viman memilih diam ketika ditanya soal hubungan itu. Mungkin karena memang tidak ada apa-apa. Mungkin juga karena ada sesuatu yang belum waktunya dibicarakan.

Atau mungkin, seperti orang yang sedang berlari, Viman memang sedang mengatur napas. Sebab dalam lari maupun politik ada satu kesamaan: Yang penting bukan siapa yang paling cepat di awal. Tetapi siapa yang mampu bertahan sampai garis akhir. (red)

0 Komentar