Soal nanti Malik akan terbang ke mana?Belum ada yang tahu. Saya juga tidak. Burungnya pun mungkin belum tahu.Tetapi satu hal pasti: siang itu di sebuah kafe di Jalan Kapten Naseh, saya bertemu seorang anak muda yang mengatakan ingin belajar politik.
Ia membawa dua jam tangan. Dan seekor burung yang bisa hidup lebih dari setengah abad. Mungkin Malik sedang menghitung waktu. Sedangkan burungnya sedang mengingatkan: jangan sampai waktu yang panjang itu terbang sia-sia. (red)
