Malik Mahpud dan Burung Macaw!

Malik mahpud
Malik Mahpud
0 Komentar

Malik sendiri sangat humble. Tidak ada kesan bahwa ia baru saja mendapat jabatan prestisius. Ia datang bersama teman-temannya di Tasikmalaya.

Santai. Berpakaian santai. Membawa burung. Dan membawa pembicaraan yang tidak santai. Di situlah saya melihat sesuatu yang menarik.

Penampilan seseorang memang bisa memberi kesan pertama. Tetapi percakapanlah yang biasanya membongkar isi kepala.

Baca Juga:PKL Dadaha “Diseleksi” Tim Penataan Kota Tasikmalaya! Dari 179, Hanya Sekitar 50 yang Masuk PrioritasMeski Jalur Ditutup Demi Penataan, PKL Jalan Dadaha Kota Tasikmalaya Tetap Bertahan Walau Pendapatan Anjlok

Dan percakapan dengan Malik membuat saya berpikir bahwa anak muda ini sedang mencari jalannya sendiri. Ia tidak sedang terburu-buru membuktikan siapa dirinya. Setidaknya begitu yang saya tangkap dari obrolan siang itu.

Kehadiran Malik di Tasikmalaya juga bukan tanpa alasan. Ia sedang berada dalam masa pendidikan. Ia akan menempuh pendidikan S2, Master of Science bidang Innovation and Entrepreneurship.

Innovation. Entrepreneurship.Dua kata yang sangat cocok untuk anak muda. Karena inovasi berarti berani mencari jalan baru. Entrepreneurship berarti berani mengambil risiko. Dan politik? Politik juga membutuhkan keduanya. Hanya saja risikonya berbeda.

Kalau pengusaha salah mengambil keputusan, bisa kehilangan uang. Kalau politisi salah membaca zaman, bisa kehilangan kepercayaan. Dan kehilangan kepercayaan jauh lebih mahal daripada kehilangan uang.

Saya kemudian kembali melihat dua jam tangan Malik. Hijau. Kiri dan kanan. Saya juga kembali melihat burung macaw yang dibawanya. Biru dan emas.

Tiba-tiba kombinasi itu seperti lukisan kecil tentang kehidupan. Dua jam untuk mengingatkan waktu. Seekor burung untuk mengingatkan kebebasan. Dan seorang anak muda untuk mengingatkan bahwa politik tidak selamanya milik orang tua.

Barangkali Malik memang sedang belajar politik. Tetapi saya justru berpikir: Jangan-jangan yang lebih penting adalah apakah politik mau belajar dari Malik.

Baca Juga:Misi Penataan Dadaha Kota Tasikmalaya Dinilai Tidak RealistisPemkot Tasikmalaya Ingin Menata Dadaha, Meskipun PKL Tetap Ada

Ia datang ke politik pada usia 32 tahun.Membawa pendidikan. Membawa pengalaman. Membawa nama keluarga. Membawa jabatan.

Dan, yang paling unik, membawa seekor macaw yang mungkin umurnya lebih panjang daripada karier politik banyak orang.

Burung itu mungkin tidak memahami Golkar. Tidak memahami koalisi. Tidak memahami jabatan. Tidak memahami survei.

Tetapi ia memahami satu hal yang sering dilupakan manusia: terbang membutuhkan sayap. Dan sayap membutuhkan ruang. Mungkin begitu pula politik. Anak muda tidak cukup hanya diberi kursi. Ia juga perlu diberi ruang untuk berpikir. Ruang untuk belajar. Ruang untuk salah. Dan ruang untuk terbang.

0 Komentar