Kadin Mempersatukan Tiga Orang yang Dulu Berbeda, Kini Menjadi Satu Meja!

Mukota kadin
Kebersamaan Agus Nugraha, Endang Rusyanto dan Alif Hamzah dalam kegiatan Mukota Kadin Kota Tasikmalaya
0 Komentar

Maka jangan heran kalau tiga orang yang pada Pilkada Kota Tasikmalaya 2024 berada di posisi berbeda—dan sama-sama mengalami kekalahan—kini bisa berada dalam satu barisan.

Pilkada sudah selesai. Musuh politik bisa berubah menjadi teman organisasi. Begitulah hidup. Kekalahan kemarin tidak selalu menjadi permusuhan hari ini.

Dan kemenangan hari ini belum tentu berarti persahabatan selamanya. Politik memang punya memori pendek. Tetapi manusia punya kepentingan panjang.

Baca Juga:Ketua dan Sekretaris SC Mukota Kadin Kota Tasikmalaya Pamit !Mukota Kota Tasik Ditunda, Ada KADIN Jabar di Pusaran Cerita!

Yang membuat publik mungkin bertanya bukan soal ketiganya menjadi SC. Mereka punya kapasitas. Mereka punya pengalaman. Mereka juga punya hak untuk menjalankan amanah.

Yang menjadi pertanyaan justru: mengapa mereka? Siapa yang menunjuk? Apa pertimbangannya? Apa kriterianya?

Mengapa tiga nama yang sebelumnya berada di barisan pendukung salah satu kandidat kemudian dipercaya menjadi penjaga proses pemilihan?

Tidak ada yang bisa menjelaskan secara terang. Setidaknya sampai sekarang. Terutama dari Kadin Jawa Barat.

Padahal kewenangan Kadin Jawa Barat dalam Mukota kali ini terasa begitu kuat. Bahkan Ketua Kadin Jawa Barat Almer Faiq Rusydi disebut ikut memantau jalannya Mukota melalui Zoom.

Zoom memang ajaib. Orang bisa hadir tanpa datang. Bisa mengawasi tanpa duduk di kursi. Bisa melihat semua orang dari layar.

Mungkin inilah bentuk baru demokrasi organisasi: musyawarah tatap muka, pengawasan jarak jauh.

Baca Juga:MBK Ventura Dorong Terwujudnya Keluarga Sehat, Cerdas dan Sejahtera di Cisayong Kabupaten TasikmalayaKadin, Kursi Rp100 Juta dan Kartu Merah!

Dan tiga orang tadi bekerja. Tidak main-main. Mereka melakukan telaah. Mereka menjalankan tugas. Proses berjalan. Tidak ada hambatan berarti. Sampai akhirnya Karim ditetapkan secara aklamasi.

Kalau dilihat dari hasil akhirnya, racikannya berhasil. Ini yang dalam politik disebut strategi. Bukan selalu tentang siapa yang paling banyak bicara.

Kadang strategi adalah tentang siapa yang berada di tempat yang tepat pada waktu yang tepat. Dan siapa yang memegang kunci ketika pintu pemilihan dibuka.

Padahal beberapa hari sebelumnya, cerita Mukota seperti sinetron episode panjang.Panitia berganti. Surat penundaan muncul.Ketua SC mundur. Sekretaris SC mundur. Pengurus mempertanyakan. Kadin Jabar meminta tetap jalan.

Kemudian muncul SC baru. Dan Mukota akhirnya jalan juga. Seperti kereta yang mesinnya sempat mati. Lalu didorong. Setelah bergerak, ternyata bisa ngebut.

0 Komentar