Walhi Jabar Soroti Lambannya Penanganan Kapal Tongkang di Pangandaran

batu bara kapal tongkang pangandaran
Dokumentasi ceceran batu bara di kawasan pesisir pantai Sukaresik-Batuhiu Pangandaran, beberapa waktu lalu.
0 Komentar

PANGANDARAN, RADARTASIK.ID – Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Jawa Barat menyoroti lambatnya penanganan evakuasi kapal tongkang Nautica 22 yang menumpahkan batu bara di pesisir Kabupaten Pangandaran. Hal ini berdampak pada terabaikannya potensi pencemaran.

Tim Advokasi WALHI Jawa Barat, Ajeng Pramudya, dalam keterangan tertulisnya mengatakan, respons awal pemerintah dinilai belum cukup cepat untuk mencegah meluasnya risiko pencemaran dan pengambilan batu bara oleh masyarakat.

“Respons yang lambat membuat pengambilan batu bara oleh masyarakat tidak dapat dihindari,” ujarnya dalam rilis Selasa (15/9/2026).

Baca Juga:Kadin Mempersatukan Tiga Orang yang Dulu Berbeda, Kini Menjadi Satu Meja!Ketua dan Sekretaris SC Mukota Kadin Kota Tasikmalaya Pamit !

Menurutnya, pada 17-19 Juni, penanganan di lokasi lebih banyak berfokus pada evakuasi awak kapal. Sementara itu, sebagian batu bara yang tumpah diambil masyarakat untuk bahan bakar ikan serta batok kelapa atau arang.

WALHI menilai pemasangan pembatas di lokasi, termasuk garis polisi, seharusnya dapat dilakukan lebih cepat untuk mencegah masyarakat bersentuhan langsung dengan material tumpahan

Pada 22 Juni 2026, Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Pangandaran yang diketuai Jeje Wiradinata menggelar audiensi di DPRD Kabupaten Pangandaran. Pegiat lingkungan tersebut mendorong perusahaan melakukan pemulihan lingkungan, salah satunya melalui penanaman mangrove.

Sehari kemudian, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) meninjau lokasi. Namun, pembongkaran tongkang saat itu disebut masih menunggu persetujuan Syahbandar.

WALHI mengingatkan dampak tumpahan batu bara tidak bisa diukur hanya dari material yang terlihat di permukaan. “Mengacu pada sejumlah penelitian, batu bara yang tidak terbakar dapat menjadi sumber keasaman, salinitas, logam jejak, hidrokarbon, chemical oxygen demand (COD), serta senyawa lain yang berpotensi memengaruhi organisme perairan,” ucapnya.

Material tersebut juga dapat mengandung logam, metaloid, dan polycyclic aromatic hydrocarbons (PAH) yang berpotensi mencemari air dan sedimen serta membahayakan organisme laut dan manusia.

Namun, WALHI menegaskan kandungan spesifik batu bara yang tumpah dari Nautica 22 belum dapat dipastikan. Diperlukan pengujian untuk mengetahui karakteristik dan jenis batu bara yang diangkut.

Baca Juga:Mukota Kota Tasik Ditunda, Ada KADIN Jabar di Pusaran Cerita!MBK Ventura Dorong Terwujudnya Keluarga Sehat, Cerdas dan Sejahtera di Cisayong Kabupaten Tasikmalaya

“Tumpahan batu bara di laut perlu dilihat dan ditangani dari berbagai perspektif, tidak hanya dari apa yang terlihat di permukaan,” ucapnya.

WALHI mendorong pemerintah melakukan penilaian dampak lingkungan, termasuk pengujian air, sedimen, dan organisme di sekitar lokasi kejadian.(Deni Nurdiansah)

0 Komentar