TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Tasik Muslim Fair (TMF) 2026 tak sekadar menjadi etalase produk Islami.
Event yang digelar di Graha Asia pada 1-4 Oktober 2026 itu mampu menarik sekitar 40.000 pengunjung selama empat hari.
Angka tersebut menjadi sinyal bahwa pasar produk muslim lokal masih punya ruang untuk terus digarap.
Baca Juga:HUT Ke-81 TNI di Kota Tasikmalaya: Kekuatan Prajurit Ditegaskan Harus Selalu Bersama RakyatWarga Tolak Alih Fungsi 17 Hektare Sawah Setiajaya Kota Tasikmalaya, Ingatkan Larangan Gubernur Jabar
Fashion muslim, kuliner hingga berbagai produk UMKM Tasikmalaya mendapat kesempatan bertemu langsung dengan konsumen dalam satu ruang promosi.
Bagi pelaku usaha, ramainya TMF bukan hanya soal jumlah pengunjung. Lebih jauh, event tersebut menjadi pintu untuk memperluas pasar dan memperkuat perputaran ekonomi lokal.
Wakil Wali Kota Tasikmalaya Diky Candra mengatakan, semakin aktif kegiatan usaha digelar, semakin besar pula peluang terciptanya perputaran ekonomi di daerah.
“Setiap pengusaha lokal Kota Tasikmalaya tentu akan berdampak positif untuk daerah. Kalau khususnya pengusaha muslim yang bergerak di bidang fashion, seperti bordir, pakaian muslimah, kerudung, mukena dan lainnya, berkontribusi secara tidak langsung terhadap PAD,” ujar Diky saat penutupan TMF 2026, Minggu (4/10/2026).
Menurut dia, kontribusi tersebut bukan berasal dari pajak khusus sektor fashion. Namun, ketika aktivitas usaha meningkat, transaksi dan perputaran ekonomi ikut bergerak.
Dampaknya kemudian masuk ke daerah melalui mekanisme perpajakan dan retribusi yang berlaku.
Di balik geliat pasar yang ditunjukkan TMF, Diky mengakui dukungan Pemkot Tasikmalaya terhadap pengembangan pelaku usaha lokal masih menghadapi keterbatasan, terutama dari sisi anggaran.
Artinya, pelaku usaha tidak bisa sepenuhnya menunggu pemerintah membuka jalan.
Baca Juga:HUT ke-25 Kota Tasikmalaya Tak Mau Sekadar Seremoni, Viman Dorong City Branding dan 25 Event KolaboratifGebyar Mancing Siliwangi Warnai HUT ke-81 TNI, Kodim 0612 Tasikmalaya Dekatkan Diri dengan Warga
Kreativitas pelaku usaha dan kolaborasi dengan berbagai pihak menjadi salah satu kunci agar pasar tetap bergerak.
“Dalam hal dukungan saat ini, harus kami akui masih belum maksimal dan ideal, khususnya secara anggaran. Adapun ikhtiar seperti kerja sama dengan swasta terkait affiliate beberapa bulan lalu, menciptakan iklim sehat usaha bazar dalam kota dan hal-hal yang bisa dilakukan sesuai kondisi,” katanya.
Diky menilai promosi menjadi salah satu kebutuhan yang perlu diperkuat.
Produk lokal, kata dia, harus semakin sering diperkenalkan agar tidak hanya berputar di pasar lokal, tetapi mampu menjangkau konsumen yang lebih luas.
