TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya memperluas upaya pengembangan industri tenun dengan memperkuat mata rantai produksi dari hulu hingga hilir.
Upaya tersebut tidak hanya diarahkan untuk menjaga keberadaan tenun sebagai warisan budaya, tetapi juga mendorongnya berkembang sebagai produk unggulan yang mampu menjangkau pasar lebih luas.
Wakil Ketua Dekranasda Kabupaten Tasikmalaya, Hj Khifayati Nursetiana, mengatakan bahwa pengembangan industri tenun perlu dilakukan secara menyeluruh karena setiap mata rantainya memiliki potensi untuk dikembangkan di Tasikmalaya. Mulai dari pembudidayaan ulat sutera hingga proses menenun sudah dilakukan di Tasikmalaya, meski masih terkendala keterbatasan tenaga terampil.
Baca Juga:BPJS Ketenagakerjaan Perkuat Perlindungan Pekerja Migran Indonesia di Malaysia Lewat Kerja Sama Lintas NegaraBPJS Ketenagakerjaan Gandeng Kadin dan Hipmi Kota Tasikmalaya, Ribuan Pekerja Didorong Dapat Perlindungan
Menurut Khifayati, keterbatasan sumber daya manusia menjadi salah satu persoalan yang perlu dibenahi. Jumlah tenaga yang memiliki keterampilan di bidang tenun masih terbatas sehingga regenerasi menjadi kebutuhan penting untuk menjaga keberlanjutan industri tersebut.
Oleh sebab itu, pihaknya melakukan upaya penguatan SDM kemudian dilakukan melalui sejumlah program pelatihan vokasi yang disesuaikan dengan kebutuhan pelaku UMKM. Upaya tersebut diarahkan untuk menyiapkan tenaga baru yang dapat mendukung keberlangsungan kerajinan sekaligus memperkuat kapasitas sumber daya manusia di sektor tenun.
Namun, penguatan tenaga kerja saja belum cukup untuk membangun mata rantai produksi yang utuh. Khifayati mengatakan, pengembangan tenun juga perlu menyentuh sisi hulu, terutama karena bahan baku sutera memiliki rangkaian proses yang panjang sebelum akhirnya dapat diolah menjadi kain.
Karena itu, pihaknya mulai menggandeng Yayasan Al Kautsar di Kecamatan Cineam dalam pengembangan tanaman murbei sebagai upaya membangun mata rantai industri tenun dari hulu hingga hilir.
Langkah tersebut, menurut Khifayati, diharapkan dapat mempertemukan sisi hulu dengan aktivitas produksi tenun yang sudah berjalan. Pengembangan tidak lagi hanya diarahkan pada kain sebagai produk akhir, tetapi juga pada ketersediaan mata rantai yang menopang proses produksinya.
“Oleh karena itu kita kolaborasi juga dengan Yayasan Al Kautsar di Cineam. Karena kita menginginkan ekosistemnya ini tidak hanya putus di hilir atau hulu saja, tapi kita harus berkesinambungan dari hulu ke hilir,” ujar Khifayati.
