Anak yang diam belum tentu baik-baik saja. Karena itu sekolah membangun sistem agar suara siswa tidak hilang di antara begitu banyaknya aktivitas pendidikan.
Ada program lain yang menarik: Tabungan Maslahat. Namanya tabungan. Tetapi yang ditabung bukan hanya uang. Yang ditumbuhkan adalah empati.
Anak-anak belajar bahwa sebagian dari apa yang mereka miliki bisa menjadi manfaat bagi orang lain. Di situlah pendidikan karakter menemukan bentuknya yang konkret.
Baca Juga:Jangan Cuma Jadi Jalan ke Pangandaran, Goa Cikapinis Didorong Jadi Magnet Wisata KarangnunggalPermurtadan Berkedok Healing Gratis Menyasar Warga Kota Tasikmalaya, MUI Minta Pemimpin Waspada
Karakter tidak cukup diajarkan melalui definisi. Empati harus dipraktikkan. Seperti halnya kepedulian lingkungan. Status Adiwiyata Mandiri bukan sekadar sebuah penghargaan yang kemudian dipajang.
Ia menunjukkan bahwa lingkungan sekolah juga menjadi bagian dari pendidikan. Anak belajar bahwa halaman yang bersih bukan hanya tugas petugas kebersihan.
Sampah bukan hanya persoalan tempat sampah. Lingkungan adalah tanggung jawab bersama. Menariknya, bukan hanya siswa yang diajak belajar.
Guru pun melakukan refleksi setiap Jumat. Ini mungkin bagian yang paling sering dilupakan dalam pembicaraan tentang sekolah aman dan nyaman.
Kita terlalu sering bertanya bagaimana memperbaiki murid. Padahal guru juga manusia. Guru bisa lelah. Guru bisa salah. Guru juga perlu berhenti sejenak untuk melihat kembali apa yang sudah dilakukan selama seminggu.
Refleksi membuat sekolah tidak berjalan seperti mesin. Ada ruang untuk bertanya: Apa yang sudah baik? Apa yang belum? Apa yang harus diperbaiki? Dan yang paling penting: apa yang dirasakan anak-anak?
Di situlah budaya sekolah dibangun bukan dengan instruksi, melainkan dengan kebiasaan mengevaluasi diri. Aman Itu Kerja Bersama
Baca Juga:Uang Palsu Dicetak di Kota Tasikmalaya, FOSSMA Ingatkan Pengusaha Percetakan soal Jerat HukumPramuka SDN 2 Kersanagara Kota Tasikmalaya Gerakkan 2 Kersa 4B! Ajarkan Berbagi Tanpa Menunggu Lebih
Pada akhirnya film dokumenter “Menciptakan Sekolah Aman dan Nyaman” bukanlah cerita tentang seorang kepala sekolah yang berhasil membuat sekolah menjadi aman.
Ini adalah cerita tentang bagaimana seorang kepala sekolah menggerakkan seluruh warga sekolah untuk menciptakan rasa aman itu bersama-sama.
Kepala sekolah memberikan arah. Guru menjalankan. Siswa ikut membangun. Orang tua terlibat. Lingkungan mendukung.
Sistem mengawal. Dan semua itu harus dilakukan terus-menerus. Karena sekolah aman bukan proyek satu tahun.
Sekolah nyaman bukan program yang selesai setelah spanduk diturunkan. Ia adalah budaya. Dan budaya hanya akan hidup jika dilakukan berulang-ulang.
