Penutupan Jalan Dadaha Tasikmalaya Munculkan Jalur Tikus dan Trayek Angkot Bayangan

Penutupan Jalan Lalu Lintas Dadaha, Penataan Dadaha
Pengendara termasuk angkot menggunakan rute jalur tikus efek penutupan Jalan Dadaha, Rabu (16/9/2026). (Foto: Ujang Nandar/Radar Tasikmalaya)
0 Komentar

TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID–Penutupan akses jalan utama dalam proses penataan Dadaha belum bisa diterima oleh publik, khususnya pengendara. Pengguna kendaraan pribadi termasuk angkutan umum memilih pakai jalur tikus ketimbang jalan alternatif utama.

Tim penataan sengaja menutup akses jalan utama dengan alasan agar keramaian bisa terpecah ke jalur lingkar. Dengan ekspektasi, PKL tidak menumpuk di jalur tersebut dan jalur lingkar bisa lebih ramai.

Ada pun kondisi di lapangan, penutupan jalan ini terbilang tidak konsisten karena sebagian pengendara tetap bisa melintasi jalur tersebut. Selain itu, pengendara juga sejumlah kendaraan malah menggunakan jalur tikus di belakang GGM, kemudian masuk ke jalan kecil di sekitar lapangan tenis hingga menuju area belakang Gedung Creative Center (GCC).

Baca Juga:Kadin Mempersatukan Tiga Orang yang Dulu Berbeda, Kini Menjadi Satu Meja!Ketua dan Sekretaris SC Mukota Kadin Kota Tasikmalaya Pamit !

Penerapan sistem satu arah juga dinilai belum berjalan secara optimal. Arus kendaraan dari berbagai akses masih digunakan layaknya dua arah baik di jalur stadion maupun SD Dadaha.

Ketua FORSIL RTRW Tasikmalaya, Deden Tazdad mengatakan penutupan jalan tidak cukup hanya dilakukan dengan memasang pembatas atau mengalihkan arus kendaraan. Tetapi harus disertai pengaturan lalu lintas yang jelas supaya lalu lalang kendaraan bisa teratur..

“Penutupan jalan utama tentu memiliki konsekuensi terhadap pola pergerakan masyarakat. Ketika jalur utama ditutup, pengguna jalan akan mencari alternatif. Kalau tidak diatur dengan baik, yang muncul bisa berupa kesemrawutan, konflik antar-pengguna jalan, hingga persoalan keselamatan,” ujar Deden.

Ia menilai penggunaan jalan-jalan kecil serta area yang sebelumnya bukan diperuntukkan sebagai jalur utama kendaraan menunjukkan adanya perubahan pola mobilitas masyarakat setelah akses utama ditutup.

Kendaraan roda dua maupun roda empat, kata dia, kini memanfaatkan sejumlah akses alternatif di sekitar GGM dan area parkir GCC untuk melintas. Kondisi tersebut perlu menjadi perhatian karena terdapat aktivitas masyarakat, kendaraan yang keluar-masuk, serta pejalan kaki di kawasan yang sama.

“Jangan sampai area yang sebenarnya bukan jalur lalu lintas utama kemudian menjadi akses kendaraan secara terus-menerus tanpa adanya pengaturan yang jelas. Ini berpotensi menimbulkan titik rawan baru,” katanya.

0 Komentar