Sekolah tidak sedang memusuhi HP. Sekolah sedang mengajarkan bahwa HP adalah alat, bukan tuan. Bahwa dunia digital penting, tetapi dunia nyata tetap membutuhkan percakapan, permainan, persahabatan dan buku.
Itulah bagian dari keamanan di ruang digital sekaligus kenyamanan secara psikologis. Affi Endah Navillah juga memahami satu hal penting: sekolah tidak mungkin bekerja sendirian.
Karena anak yang datang ke sekolah berasal dari rumah. Maka orang tua harus menjadi bagian dari ekosistem pendidikan. Kelas parenting menjadi salah satu jembatannya.
Baca Juga:Jangan Cuma Jadi Jalan ke Pangandaran, Goa Cikapinis Didorong Jadi Magnet Wisata KarangnunggalPermurtadan Berkedok Healing Gratis Menyasar Warga Kota Tasikmalaya, MUI Minta Pemimpin Waspada
Di sana pendidikan tidak berhenti pada bagaimana guru mengajar anak. Tetapi juga bagaimana orang tua memahami anak.
Sebab sering kali persoalan anak bukan karena anak tidak mau mendengar. Bisa jadi orang dewasa yang belum menemukan cara untuk didengar.
Sekolah kemudian menghadirkan pula Kelas Inspirasi. Tokoh-tokoh inspiratif datang membawa cerita. Anak-anak melihat bahwa kehidupan tidak hanya terdiri dari nilai rapor dan ranking.
Ada perjuangan. Ada kegagalan. Ada kerja keras. Ada jalan panjang sebelum seseorang menjadi seseorang. Bagi anak-anak, perjumpaan semacam itu bisa menjadi jendela. Mereka mulai melihat bahwa masa depan tidak harus sama dengan hari ini.
Ada pula hal yang tampaknya sederhana, tetapi sesungguhnya penting: kesepakatan kelas. Bukan semua aturan datang dari kepala sekolah. Bukan semua aturan dibuat guru. Siswa diajak berdiskusi.
Mereka ikut menentukan bagaimana kelas seharusnya berjalan. Di situlah pendidikan demokrasi sebenarnya berlangsung. Anak belajar bahwa aturan bukan semata-mata sesuatu yang harus ditakuti. Aturan adalah kesepakatan yang dibuat agar semua orang merasa dihargai.
Kalau siswa ikut membuat kesepakatan, maka mereka tidak hanya menjadi objek aturan. Mereka menjadi bagian dari aturan itu sendiri. Dan dari sanalah rasa memiliki tumbuh.
Baca Juga:Uang Palsu Dicetak di Kota Tasikmalaya, FOSSMA Ingatkan Pengusaha Percetakan soal Jerat HukumPramuka SDN 2 Kersanagara Kota Tasikmalaya Gerakkan 2 Kersa 4B! Ajarkan Berbagi Tanpa Menunggu Lebih
Sekolah yang aman bukan sekolah yang tidak pernah memiliki masalah. Itu definisi yang terlalu sederhana. Sekolah yang aman justru adalah sekolah yang membuat masalah bisa diketahui sebelum menjadi besar. Karena itu sistem deteksi dini menjadi penting.
Begitu pula kanal pengaduan. Anak harus memiliki tempat untuk berbicara. Harus ada pintu ketika ia merasa takut. Harus ada telinga ketika ia ingin didengar. Sebab persoalan terbesar di sekolah kadang bukan masalah yang terlihat. Yang lebih berbahaya adalah masalah yang tidak pernah terucapkan.
