Perjalanan SMPN 2 Tasikmalaya Membuat Sekolah Aman, Anak Nyaman! 

perjalanan SMPN 2 Tasikmalaya
Hj Affi Endah Navillah, Kepala SMP Negeri 2 Tasikmalaya. istimewa for radartasik.id
0 Komentar

TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Ada sekolah yang sibuk karena muridnya banyak. Ada sekolah yang sibuk karena gurunya banyak.

SMP Negeri 2 Tasikmalaya punya dua-duanya. Murid banyak. Tenaga pendidik juga tidak sedikit. Mengelolanya tentu bukan seperti mengatur barisan kursi di dalam kelas.

Manusia bukan kursi. Murid punya emosi. Guru punya persoalan. Orang tua punya harapan. Dan sekolah berada di tengah-tengah semuanya. Di situlah perjalanan Hj Affi Endah Navillah, Kepala SMP Negeri 2 Tasikmalaya, menjadi menarik.

Baca Juga:Jangan Cuma Jadi Jalan ke Pangandaran, Goa Cikapinis Didorong Jadi Magnet Wisata KarangnunggalPermurtadan Berkedok Healing Gratis Menyasar Warga Kota Tasikmalaya, MUI Minta Pemimpin Waspada 

Ia tidak sekadar bicara tentang sekolah yang tertib. Ia membawa sekolah pada pertanyaan yang lebih mendasar: apakah anak-anak merasa aman ketika berada di sekolah? Apakah mereka nyaman untuk belajar, bertanya, berbeda pendapat, bahkan mengadu ketika menghadapi persoalan?

Pertanyaan itu kemudian menemukan bentuknya dalam film dokumenter “Menciptakan Sekolah Aman dan Nyaman”. Film ini tidak sekadar merekam program sekolah. Ia merekam sebuah proses.

Sebab sekolah aman dan nyaman ternyata tidak bisa dibuat dengan satu surat keputusan kepala sekolah. Tidak cukup dengan memasang slogan di dinding. Apalagi hanya dengan mengatakan kepada siswa: “Jangan berkelahi.” Aman dan nyaman harus menjadi budaya. Dan budaya membutuhkan kebiasaan.

Permendikdasmen Nomor 6 Tahun 2026 memberikan kerangka yang jelas: sekolah harus memperhatikan empat dimensi. Aman secara fisik. Aman secara spiritual. Nyaman secara psikologis. Dan aman di ruang digital.

Empat hal itu terdengar sederhana. Tetapi melaksanakannya di sekolah dengan jumlah warga yang besar adalah pekerjaan yang tidak sederhana.

Salah satu kebijakan yang menarik perhatian adalah pembatasan penggunaan telepon seluler di lingkungan sekolah. Di zaman ketika HP sudah seperti anggota tubuh tambahan, membatasi penggunaannya tentu bukan perkara mudah.

Tetapi SMP Negeri 2 Tasikmalaya justru menemukan sesuatu yang sempat hilang. Ketika HP tidak lagi menjadi pusat perhatian, anak-anak kembali bermain.

Baca Juga:Uang Palsu Dicetak di Kota Tasikmalaya, FOSSMA Ingatkan Pengusaha Percetakan soal Jerat HukumPramuka SDN 2 Kersanagara Kota Tasikmalaya Gerakkan 2 Kersa 4B! Ajarkan Berbagi Tanpa Menunggu Lebih

Permainan tradisional muncul lagi. Buku kembali dibuka. Interaksi antarsiswa menjadi lebih nyata. Anak-anak yang sebelumnya sibuk menatap layar, perlahan kembali menatap wajah temannya.

Di situ ada ironi kecil kehidupan modern. Teknologi dibuat agar manusia semakin terhubung. Tetapi kadang-kadang manusia justru harus menjauh sebentar dari teknologi supaya bisa benar-benar terhubung.

0 Komentar