TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Dalam permainan politik tingkat tinggi, kekuatan tidak selalu digunakan dengan cara menyerang. Kadang kekuatan terbesar justru terletak pada kemampuan menjaga keseimbangan.
Seorang pemain politik yang matang tidak harus selalu menunjukkan seluruh kartu yang dimilikinya. Cukup memastikan bahwa lawan maupun mitra politik mengetahui: kartu itu ada.
Dan dalam peta menuju 2029, munculnya KDM sebagai figur dengan popularitas tinggi memberikan efek domino terhadap banyak tokoh politik lain. Bukan hanya bagi pesaing di luar pemerintahan. Tetapi juga bagi mereka yang saat ini berada dalam lingkaran kekuasaan.
Baca Juga:Revitalisasi Sekolah: Swakelola Jangan Jadi Sandiwara!Revitalisasi Sekolah Tak Dikerjakan Kontraktor, Tapi Swakelola Sekolah!
Salah satu figur yang paling terdampak oleh naiknya popularitas KDM adalah Gibran Rakabuming Raka. Sebagai wakil presiden, Gibran tentu memiliki posisi strategis.
Jabatan wakil presiden memberikan panggung nasional, akses kekuasaan, serta peluang membangun citra politik dalam lima tahun pemerintahan. Namun politik memiliki logikanya sendiri. Jabatan tidak otomatis menjadi tiket tunggal menuju masa depan.
Dalam sejarah politik, banyak tokoh yang memiliki jabatan tinggi tetapi tidak selalu berhasil mengubah posisi tersebut menjadi kekuatan elektoral.
Di sinilah kehadiran KDM menjadi sebuah pesan. Bahwa Gerindra memiliki kader internal dengan modal politik yang tidak kecil. Ada popularitas. Ada kedekatan dengan masyarakat. Ada kemampuan komunikasi massa. Ada basis pemilih yang terbentuk jauh sebelum kontestasi nasional dimulai.
Bagi Gibran, keberadaan KDM menjadi pengingat bahwa arena politik 2029 tidak hanya ditentukan oleh posisi formal, tetapi juga oleh kemampuan membangun hubungan emosional dengan pemilih.
Selama ini, partai politik sering menghadapi dilema. Mereka membutuhkan figur populer untuk memenangkan pemilu, tetapi tidak selalu memiliki kader internal dengan daya tarik yang sama.
Akibatnya, banyak partai harus mencari tokoh dari luar. Namun dengan munculnya figur seperti KDM, Gerindra memiliki keuntungan berbeda.
Baca Juga:RAJA PLT: Satu Hanafi, Banyak Kursi!Enjang Why Not!
Partai memiliki stok internal. Ini meningkatkan posisi tawar Gerindra dalam membangun koalisi. Dalam negosiasi politik, pihak yang memiliki banyak pilihan biasanya memiliki posisi lebih kuat.
Jika sebuah partai hanya memiliki satu pilihan figur, maka ia akan lebih mudah bergantung kepada pihak lain. Tetapi jika memiliki beberapa opsi, ruang manuver menjadi lebih besar. KDM memberikan ruang tersebut.
