TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Ada nama yang selesai ketika orangnya meninggal. Ada nama yang justru mulai panjang ceritanya setelah pemilik nama itu pergi.
Almarhum KH Didi Abdul Majid termasuk yang kedua. Beliau wafat pada 2007.Sudah 19 tahun. Tetapi namanya masih disebut. Bukan karena dipasang di papan nama. Bukan karena dibuatkan patung.Tetapi karena setiap tahun orang datang ke Sulalatul Huda untuk mendoakannya.
Pada Haul ke-19, Desember 2025, pesantren itu kembali menjadi tempat bertemunya keluarga, santri, alumni, ulama dan berbagai elemen masyarakat.
Baca Juga:Tim Smart Posyandu UPI Dampingi Warga Cigedug Cegah Stunting dan Tingkatkan Literasi AnakTim Dosen Unsil Dorong UMKM Singaparna Melek Keuangan Digital Syariah
Pimpinan pesantren, KH Aminudin Bustomi, menyebut haul sebagai momentum menghidupkan kembali nilai rohani dan kebersamaan yang diwariskan KH Didi.
Itulah menariknya seorang kiai. Ia boleh sudah tidak ada. Tetapi doanya masih bekerja melalui anak-anaknya.
Ayah pergi, rumah ilmu tetap menyalaKH Didi Abdul Majid bukan meninggalkan anak sedikit. Sebelas. Kalau keluarga biasa, sebelas anak sudah seperti satu kelas sekolah.
Kalau keluarga kiai, sebelas anak bisa menjadi sebelas pintu pengabdian. Tentu tidak semuanya harus menjadi kiai. Tidak semua harus berdiri di mimbar.
Karena meneruskan perjuangan orang tua tidak selalu berarti meneruskan pekerjaannya secara persis. Yang diteruskan adalah nilai. Yang diteruskan adalah amanah. Yang diteruskan adalah doa.
Dan di situlah keluarga besar KH Didi Abdul Majid mendapatkan tantangannya. Bagaimana nama besar ayah tidak menjadi beban. Tetapi menjadi kompas.
Yang pertama: Alya dan Aminudin
Putri pertama, Hj. Alya Nurul Huda, menikah dengan KH Aminudin Bustomi.
Baca Juga:Prabowo, KDM (part 7): Penerjemah Program Presiden!Tim Pengabdian Dosen Unsil Tasikmalaya Digitalisasi Pelaporan Kesehatan di Puskesmas Kahuripan
Di sinilah garis keluarga dan garis pesantren bertemu. Aminudin bukan hanya menantu. Ia kemudian menjadi pimpinan Pondok Pesantren Sulalatul Huda.
Namanya pun kini melekat kuat dengan keberlanjutan pesantren di Paseh. Media lokal mencatat KH Aminudin Bustomi sebagai pimpinan Sulalatul Huda dan menantu pendiri pesantren, KH Didi Abdul Majid.
Ini menarik. Dalam keluarga biasa, menantu masuk ke rumah. Dalam keluarga pesantren, kadang menantu masuk ke amanah. Berat? Tentu.
Sebab menjadi menantu seorang kiai saja sudah ada tanggung jawab menjaga nama keluarga. Menjadi penerus pesantrennya lebih berat lagi.
